Jumat, 15 Juli 2022
Memberdayakan Potensi Energi di NTT
Senin, 11 Juli 2022
Belajar dari Semesta
Sabtu, 02 Juli 2022
Damai itu Indah
Jumat, 24 Juni 2022
Asa Wirausahawan Baru
Oleh: Krismanto Atamou
Hidup ini tidak sehitam-putih yang diajarkan di kelas, tidak sehitam-putih kebenaran dan kesalahan, ada banyak variasi lain yang bisa kita argumentasikan dengan baik untuk memperoleh jawaban yang memuaskan. Begitu kata Martin Suryajaya di channel youtube-nya dengan konten “Belajar Berpikir Kritis”.
Sengaja saya mengutip perkataan Martin ini sebagai landasan untuk mengulas masalah langgam apresiasi dan hambatan hak istimewa sosial (privilege) terhadap wirausahawan baru. Sebab menjadi rahasia umum bahwa merintis usaha sebagai wirasusahawan baru tidaklah mudah. Apalagi di kultur masyarakat yang anggotanya belum terbiasa berwirausaha, ketika salah satu anggota masyarakat berwirausaha, terkadang membuat anggota masyarakat lainnya merasa aneh, iri, merasa tersaingi, bahkan “tidak nyaman”.
Untuk itu, seolah ada upaya tiga kali lipat lebih sulit bagi setiap anggota masyarakat tanpa kultur wirausaha untuk berwirausaha. Pertama, mematahkan stigma untuk tidak bisa berwirausaha berdasarkan hak istimewa sosial (privilege). Kedua, menghadapi “ketidaknyamanan” anggota masyarakat lain yang mungkin saja berujung “pengungkungan” dengan berbagai cara, bahkan cara “gelap”. Ketiga, masalah umum yaitu modal, lokasi, infrastruktur, mitra kerja, manajemen, dan legalitas.
Begitulah beberapa hari lalu El, seorang wirausahawan muda di Kalabahi, Alor mendapat “kunjungan” dari pemerintah setempat terkait usaha kuliner yang baru ia rintis. Pemerintah setempat secara lisan menyampaikan keluhan warga yang merasa “tidak nyaman” dengan asap yang dihasilkan saat mengolah kuliner.
El memvideokan di facebook secara live “kunjungan” oknum pemerintah tersebut. Sontak postingan video itu memantik simpati publik yang membagikan dan berkomentar untuk mendukung El. Tentu peristiwa di video yang viral ini tidak bisa dibaca secara hitam putih karena keterangan di video masih minim data.
Mematah “Kutukan” Privilege
Berbicara asa wirausahawan baru, kali ini saya ingin mengulas tentang jegalan privilege dalam berwirausaha. Mengapa? Karena masih ada anggapan bahwa dengan privilege yang baik mutlak menjadi modal dalam berwirausaha.
Ibarat anak tangga, privilege adalah di tangga ke berapa kita berdiri untuk mencapai kesuksesan. Walau privilege bisa menjadi salah satu modal untuk sukses, saya rasa privilege bukanlah jaminan utama kesuksesan. Pasalnya, privilege dapat menjadi bumerang jika disalahgunakan.
Oleh karena itu, saya kira terbuka peluang bagi siapa pun untuk mematahkan “kutukan” privilege dan menanjak di tangga sosial. Apalagi setelah pemerintah pusat memberikan ruang bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bertumbuh lewat payung regulasi dan bantuan lainnya.
Untuk mematahkan “kutukan” privilege tentu tidak cukup sekedar mengeluh atau berwacana. Diperlukan keberanian untuk memulai atau mencoba. Ketika gagal, coba lagi dan lagi. Sebuah pepatah perihal berwirausaha mengatakan: setiap orang perlu menghabiskan stok kegagalannya sebelum meraih kesuksesan.
Begitulah ketika kita melihat kegemilangan seorang wirausahawan, itu tidak terlepas dari pengalaman gagal. Sebab kejayaan wirausahawan saat ini adalah hasil dari jalan sunyi, hari-hari penuh tekanan, ketekunan, dan keuletan. Saya kira tekanan demi tekanan inilah yang sedang dialami El kali ini. Dalam postingan yang lain, El menyampaikan kehilangan perahu untuk usaha rumput laut.
Dalam video yang viral itu beberapa kali El mengatakan: ini semata-mata karena ekonomi. Tidak ada maksud lain. Mengingat bahwa Alor adalah negeri dengan toleransi tinggi dan usaha kuliner El tidak bisa dikonsumsi oleh agama dan kepercayaan tertentu, El perlu mengambil posisi yang tepat.
Syukurlah masalah El akhirnya tertangani dengan baik oleh pemerintah dan aparat penegak hukum setempat. Video yang viral akhirnya dihapus demi menjaga suasana yang harmonis.
Belajar dari El saya kira wirausahawan baru tidak perlu takut untuk melangkah. Apapun privilege kita dan sesulit apapun tantangan,yang akan kita hadapi, pasti ada jalan keluarnya. Novelis Paulo Coelho memiliki sebuah ungkapan terkenal: Bila anda menginginkan sesuatu, alam semesta berkonspirasi untuk membantu anda mencapainya.
Berdayakan Medsos
Bahasa Paulo Coelho yaitu alam semesta berkonspirasi, kata “alam” bisa diartikan pula alam media sosial (medsos). Dan bukan hal baru lagi medsos dapat diberdayakan untuk mendukung wirausaha. Dukungan itu tidak semata dalam hal promosi, tetapi juga dalam hal berbagi ilmu atau kiat berwirausaha.
Di sisi lain, medsos bisa juga dipakai untuk mendokumentasikan bukti dugaan ketidakadilan yang mungkin saja dilakukan oleh oknum-oknum tertentu terhadap para wirausahawan. Dengan begitu, aparat penegak hukum mudah untuk memberikan perlindungan, mengidentifikasi, dan mengusut kasus bila sampai terjadi.
***
Kembali ke bahasa Martin Suryajaya di awal: hidup ini tidak sehitam-putih yang diajarkan di kelas. Begitu pula dalam berwirausaha, selain ilmu dari sekolah, ada banyak “ilmu jalanan” yang hanya bisa diperoleh ketika kita terjun langsung menjadi pelaku wirausaha. Berbekal ilmu dan dukungan semesta (termasuk medsos yang diberdayakan), saya yakin siapa pun yang sedang menapaki dunia wirausaha bisa mencapai kesuksesan, asal tidak mudah menyerah.
Minggu, 19 Juni 2022
Ikatan Guru Indonesia untuk Siapa?
Oleh: Krismanto Atamou
Wakil Ketua IGI Wilayah NTT
Pada Senin 20 Juni 2022 di aula kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) NTT akan diadakan pelantikan Badan Pengurus Ikatan Guru Indonesia (BP IGI) daerah pada beberapa kabupaten di NTT. Beberapa daerah tersebut yaitu Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Kabupaten Rote Ndao.
BP IGI Daerah yang baru dibentuk ini akan dilantik oleh BP IGI wilayah NTT. Selanjutnya, BP IGI daerah baru akan mendapatkan materi Pelatihan Manajemen Organisasi (PMO) IGI tingkat dasar yang dibawakan oleh BP IGI pusat.
Kegiatan pelantikan BP IGI daerah ini terlaksana oleh panitia yang diketuai oleh Lidyasih Widyanti, sekertaris Katrina Radja, bendahara Susan Porwata, didukung oleh BP IGI wilayah NTT, dan berbagai pihak terkait. Kegiatan pelantikan ini merupakan upaya IGI untuk menjangkau lebih banyak guru di seluruh daerah se-Indonesia. Pasalnya, sejak didirikan tahun 2009 lalu hingga kini, belum semua guru yang tahu IGI dan berkecimpung dengan IGI. Hal ini menimbulkan pertanyaan: IGI itu apa? Dan untuk apa?
IGI adalah sebuah organisasi pendidikan yang beranggotakan guru, dosen, dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Di dalam anggaran dasarnya, visi IGI ialah menjadi organisasi profesi guru yang mandiri, profesional, inklusi, berwawasan global, dan mencerdaskan. Salah satu misinya ialah melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan penguasaan teknologi untuk mendukung profesionalitas guru. Poin ini cocok dengan opini yang ditulis oleh Ani Yovita Selay berjudul “G20 dan Digitalisasi dalam Pendidikan” yang terbit di Victory News pada Selasa 14 Juni 2022 lalu.
Lalu, IGI untuk siapa? Menjawab ini, saya mengacu pada tujuan IGI di anggaran dasarnya. Satu, meningkatkan mutu, profesionalisme, perlindungan, daya saing, dan kesejahteraan guru. Dua, memperkuat nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan anti korupsi. Tiga, memperkuat kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Empat, menjadi teladan bagi peserta didik dan lingkungan. Lima, membangun budaya literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Enam, melakukan pengabdian pada masyarakat.
Dari uraian tujuan IGI di atas, jelas terlihat bahwa IGI bertujuan untuk mempersiapkan guru sebagai model dan penggerak bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Sasarannya jelas menargetkan peningkatan kompetensi guru yang kelak berdampak bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Pola ini tentu akan mengingatkan kita pada kisah klasik mengenai tindakan Kaisar Hirohito setelah peristiwa pemboman Hiroshima-Nagasaki.
Sejak saya bergabung dengan IGI pada 2018 lalu, terasa sekali banyak kemudahan untuk mengakses kanal-kanal pelatihan guru. Kanal-kanal pelatihan itu dilaksanakan oleh para guru yang telah berkompeten di bidangnya untuk saling berbagi secara gratis. Hal ini sesuai dengan motto IGI: Sharing ang Growing Together atau berbagi dan tumbuh bersama.
Sejak terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM dengan surat keputusan nomor AHU-125.AHA.01.06 Tahun 2009, jumlah anggota IGI kini telah mencapai 161.747 anggota. Untuk wilayah NTT anggota IGI telah mencapai 1.413 anggota. Untuk mendaftar menjadi anggota IGI melalui website resminya yaitu www.igi.or.id.
Saat ini ada 67 kanal pelatihan yang dapat diakses oleh guru. Beberapa diantaranya yaitu SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi), SAGUSAMIK (Satu Guru Satu Komik Pembelajaran), SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), Metode MENEMUBALING (Menulis dengan Mulut, Membaca dengan Telinga), SAGUSAVI (Satu Guru Satu Video Pembelajaran), SAGUSAPOINTER (Satu Guru Satu Powerpoint Interaktif), Maluku Belajar, dan SAGUDIHATI (Satu Guru Mendidik dengan Hati).
Saya sendiri telah mengikuti pelatihan di beberapa kanal yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri saya. Dari situ saya bisa membangun website sekolah tempat saya bekerja menggunakan platform yang sederhana dan tanpa biaya. Hasil berikut yaitu sebuah film pendek bertema pendidikan berjudul “Semangat Belajar Anita” yang saya upload ke YouTube.
Beberapa waktu lalu, IGI wilayah NTT menghasilkan satu buku ber-ISBN berjudul Guru Kehidupan. Buku ini diinisiasi oleh kanal Kelas Menulis IGI NTT. Berawal dari pelatihan menulis kepada beberapa anggota, sebagai tindak lanjut, setiap peserta pelatihan Kelas Menulis IGI NTT dibimbing hingga menghasilkan karya tulis. Kumpulan karya tulis itulah yang kemudian diproses menjadi buku “Guru Kehidupan”.
Saat ini, beberapa anggota IGI di NTT sudah berhasil di tingkat nasional. Ketua Wilayah IGI NTT, Meky da Cunha, S.Pd, M.Si misalnya, kini telah lolos seleksi dan bertugas menjadi pendamping Guru Penggerak Angkatan IV di wilayah NTT. Beberapa anggota IGI NTT tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai calon guru penggerak saat ini, salah satunya ialah sekretaris IGI wilayah NTT Muhammad Kasim, S.Pd. Dalam hal ini, IGI bermitra dan bersinergi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk memajukan pendidikan di Indonesia.
Selamat mengabdi badan pengurus IGI daerah yang baru dilantik. Sharing and Growing Together untuk memajukan pendidikan di Indonesia.
Rabu, 15 Juni 2022
Gerson Poyk: Sang Legenda dari NTT
Oleh : Krismanto Atamou
Senin, 13 Juni 2022 lalu melintas di beranda akun Facebook saya postingan dari Fanny J. Poyk. Penulis novel “Gizzara” ini adalah anak dari Gerson Poyk, sang Maestro Sastra asal NTT. Ia membagikan postingan dari akun Sahadewa terkait peringatan Hari Sastra NTT 2022 yang akan dilaksanakan pada Kamis, 16 Juni 2022 mulai pukul 16.00 WITA di Taman Budaya Gerson Poyk, Oepoi, Kota Kupang, NTT.
Acara Hari Sastra NTT 2022 ini terbuka untuk umum. Pada acara yang diselenggarakan oleh Dusun Flobamora dan Dedari Art Institute ini, sesuai flyer, akan diadakan kegiatan baca puisi, bedah buku, musikalisasi puisi, tari, dan lain-lain. Salah satu buku yang akan dibedah ialah buku kumpulan puisi karya Dewa Putu Sahadewa berjudul Siwanggana.
Cerpen Matias Akankari
Rasanya tidak sah jika kita mengenang alm. Gerson Poyk tanpa mengetahui karya-karyanya. Dari banyak karya, kali ini saya sedikit mengulas salah satu karya beliau yaitu cerita pendek (cerpen) Matias Akankari.
Cerpen berjudul Matias Akankari merupakan salah satu dari sekian cerpen dalam buku antologi cerpen “Matias Akankari” yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende (1975). Cerpen ini dimulai dengan cerita singkat pertemuan antara Matias Akankari dan seorang prajurit parasutis di Irian Jaya, nama Papua dulu. Matias yang tidak bisa berbahasa Indonesia kemudian menjadi pemandu yang menyelamatkan sang parasutis keluar dari hutan Papua. Matias dibawa oleh sang parasutis pulang ke ibukota Jakarta. Sang parasutis memberi Matias pakaian bagus untuk dipakai lalu membawa Matias pergi menonton film. Saat Matias sedang asik menonton film, sang parasutis meninggalkan Matias sendirian dan pulang.
Matias nyasar di ibukota Jakarta. Dia dikira pejabat dari Papua yang beruang banyak sehingga dibawa pulang oleh seorang pelacur. Matias tidak punya uang untuk membayar sehingga diusir.
Matias berjalan tak tentu arah di ibukota Jakarta hingga hingga bertemu orang-orang yang ia kasihani. Tak punya uang, Matias memberikan pakaiannya kepada orang yang membutuhkan itu lalu kembali memakai koteka, pakaian tradisional Papua.
Penampakan Matias dengan kotekanya di ibu kota Jakarta membuat ia menjadi pusat perhatian orang-orang. Ia nyasar ke sebuah klub malam dan ikut menari di panggung. Ia menjadi terkenal dan banyak uang. Akhir cerita, Matias pulang ke Papua dan menceritakan pengalamannya kepada orang-orang sekampung. Ia bercerita: ternyata kehidupan high class di ibu kota Jakarta sama saja dengan di Papua, sama-sama pakai cawat.
Begitulah ringkasan cerpen Matias Akankari. Membaca cerpen lengkapnya sangat saya rekomendasikan untuk melihat bagaimana Gerson Poyk menampilkan berbagai sisi kehidupan yang diringkas dalam sebuah cerpen. Hal menarik dari cerpen ini adalah upaya Gerson Poyk untuk menampilkan sosok polos seorang pedalaman Papua bernama Matias Akankari dan sikap oportunis seorang prajurit parasutis. Matias sebagai tokoh protagonis dan sang parasutis sebagai tokoh antagonis.
Bagi saya, cerpen ini seolah sindiran Gerson Poyk terhadap oknum “orang kota” yang jahat terhadap orang pelosok. Dalam cerpen ini, Matias yang telah berbaik hati menolong sang parasutis di hutan Papua, justru kemudian ditelantarkan di kota Jakarta. Miris.
Warisan Sang Legenda
Seniman Gerson Poyk yang telah berpulang ke hadirat Tuhan pada 24 Februari 2017 lalu ini banyak memiliki karya besar. Ia dikebumikan di TPU Fatukoa, Kota Kupang. Tahun lalu saya berziarah ke makam beliau. Di batu nisan beliau juga tertulis: “Aku ingin pulang kampung tanam jagung dan makan jagung bose, tidurkan aku di tempat ini sehingga aku tetap menjadi sosok yang mengusung sisi humanis, normatif, penuh dengan nilai-nilai etis moral.”
Gajah mati meninggalkan gading, begitupun ketika Gerson Poyk berpulang telah meninggalkan banyak karya besarnya bagi bangsa ini. Karya-karya itu bahkan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, semisal bahasa Jerman, bahasa Rusia, bahasa Jepang, dan bahasa Inggris.
Selain karya tulis, Gerson Poyk juga mewariskan semangat hidup saling mengasihi. Pada Channel Youtube Indonesia SIKA tahun 2017 lalu, Gerson Poyk bercerita bahwa hidupnya dengan seniman yang lain sudah seperti saudara. Kala ada teman yang susah, beliau membantu. Keteladanan hidup saling membantu antara seniman ini saya ketahui dari postingan facebook milik Fanny J. Poyk bernama akun Fanny Jonathans beberapa waktu lalu.
Kak Fanny, begitu saya menyapanya, kini juga telah menjadi penulis senior mengikuti jejak ayahnya. Tak kalah dengan sang ayah, karya-karya Kak Fanny juga telah menghiasi halaman media-media nasional Indonesia.
Di Hari Sastra NTT yang ditetapkan sesuai tanggal lahir almarhum Gerson Poyk ini, Kak Fanny akan hadir. Saya meminta Kak Fanny untuk membawa buku-bukunya juga buku-buku alm. Gerson Poyk agar bisa dibeli dan dinikmati oleh banyak orang. Pasalnya, saya rasa masih belum banyak orang NTT yang sudah membaca karya-karya Gerson Poyk sebagai Sang Legenda yang telah mengharumkan nama NTT di tingkat nasional bahkan Internasional.
Selamat Hari Sastra NTT tahun 2022.
Senin, 13 Juni 2022
Jalan Meretas Keterisolasian
Oleh : Krismanto Atamou
Dulu, sewaktu saya masih bertugas di Desa Oelbanu, Kecamatan Amfoang Selatan, jalanan dari dan ke sana sangat parah. Itu terutama jalan yang memasuki wilayah Kecamatan Amfoang Selatan dan sekitarnya. Sulit.
Kala itu jalan poros utama Kecamatan Takari menuju Amfoang masih lebih baik. Oleh karena itu, sebagian pesepeda motor merasa bahwa: jika dari Amfoang sudah sampai wilayah Takari, itu terasa seperti sudah berada di Kota Kupang, karena jalanannya sudah lumayan baik.
Kendaraan umum yang memasuki wilayah Amfoang kala itu masih didominasi oleh bus. Kendaraan pick up sepengetahuan saya tidak ada. Mungkin karena pick up memiliki ground clearance yang tipis sehingga sulit bermanuver di medan jalan yang rusak parah.
Ground clearance adalah jarak ruang di antara dasar dari ban kendaraan dengan bagian bawah chassis. Dalam bahasa Melayu Kupang ground clearance mungkin bisa disepadankan dengan kolong oto, yaitu ruang kosong di antara permukaan jalan dan bodi bawah oto. Nah, kalau kolong oto pendek, saat melewati jalan rusak, akan mudah tatoki alias terbentur. Salah-salah oto (kendaraan roda empat) bisa rusak.
Bahkan untuk sekelas bus saja, untuk kawasan Amfoang, hanya sopir itu-itu saja yang berani mengemudikan bus penumpang. Butuh nyali besar untuk bertanggung jawab terhadap nyawa sekian penumpang dalam bus sambil berupaya menaklukkan jalanan yang parah.
Kondektur atau konjak bus jurusan Amfoang memiliki tanggung jawab cukup besar. Tidak hanya berteriak mencari penumpang, menaikkan barang penumpang ke bus, menata penumpang dalam bus, menjaga barang penumpang agar tidak hilang atau tertukar, menagih biaya perjalanan kepada penumpang, menjadi asisten mekanik saat bus rusak, tetapi juga membantu supir mengeluarkan roda bus jika roda tersebut masuk (tatanam) dalam lumpur. Saat bus sedang mendaki, konjak mesti memikul ganjaran sambil berlari di sisi bus. Takutnya bus tiba-tiba kehilangan daya, lalu mesin mati, maka konjak harus segera mengganjar ban bus dengan ganjaran yang dipikulnya agar bus tidak mundur dan terbalik.
Kalau musim hujan, keterisolasian kawasan Amfoang sungguh memilukan, terutama Amfoang bagian pantai. Ada cerita mereka (penumpang bus, sopir, dan konjak) harus tidur berhari-hari di pinggir sungai. Mereka menunggu banjir reda sebelum menyeberang dengan bus yang ditumpangi.
Dari semua jalanan pelosok yang saya tempuh dengan sepeda motor, ada jalan yang paling unik, yaitu jalan dari pusat Kecamatan Amfoang Barat Daya ke Desa Nefoneut melewati bantaran kali. Uniknya ialah jika jalanan terputus oleh banjir atau pohon tumbang, pelintas boleh membuat jalan sendiri. Terkadang jalan yang baru dirintis itu melewati kebun-kebun orang dan harus membongkar pagar kebun orang. Jadi pelintas bebas membuat jalan sendiri di hutan dan kebun sepanjang bantaran kali.
Ada juga titik jalan raya yang memiliki pintu gerbang dan sistemnya buka-tutup sendiri. Gerbang biasanya terbuat dari kayu dan bambu. Gerbang ini biasanya berfungsi sebagai pagar kompleks kebun atau perkampungan. Jika gerbang dibukakan oleh warga sekitar maka mesti mengucapkan terima kasih atau memberi imbalan sepantasnya.
Jalan sulit di daerah terpencil biasanya menjadi ajang untuk menyalurkan sifat gotong royong. Jika melihat suatu kendaraan sulit melintas, kecelakaan, atau rusak di jalan, biasanya selalu saja ada malaikat berwujud orang yang datang dan menolong. Pertolongan itu tulus dan gratis.
Saya kira selain Amfoang, masih banyak daerah terpencil dan terisolir lain dengan cerita sulit yang sama. Cerita yang sudah membiasa sehingga terkadang bagi warga terpencil, kondisi sulit ini menjadi hal biasa, bukan untuk dikeluhkan.
Sinergi
“Indonesia telah merdeka puluhan tahun, tapi kami di sini belum ‘merdeka’?” Begitu biasanya keluhan orang-orang tertentu karena ketimpangan pembangunan. Saya kira wajar sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, warganya meminta pelayanan dari negara. Namun sebagai warga negara, sadar atau tidak, keputusan politik setiap warga negara saat pemilihan umum (Pemilu), turut menentukan siapa yang mewakilinya sebagai legislator, kepala pemerintahan, atau kepala daerah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhannya.
Pada titik ini maka (salah satunya juga) pemilu menjadi momentum pertaruhan pembangunan infrastruktur jalan. Jalan yang baik dan berkualitas akan meretas keterisolasian dan segala cerita miris yang telah saya jabarkan dari awal tulisan ini.
Begitulah saya rasa sebagai masyarakat kita perlu bersyukur karena pada pemilu kali lalu kita telah memilih orang atau pemimpin yang tepat. Kehadiran mereka telah menjawab permasalahan akses jalan di negara kita, termasuk di seluruh penjuru provinsi NTT.
Walk the talk atau melaksanakan apa yang dikatakan adalah salah satu ciri pemimpin yang baik. Dan saya kira, ciri ini ada pada Presiden Jokowi, Gubernur NTT, dan beberapa pemimpin lainnya. Kala kampanye beberapa tahun lalu, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menyatakan niatnya untuk melaksanakan pembangunan jalan raya di NTT. Ternyata niat ini benar-benar beliau laksanakan. Contohnya yaitu pembangunan infrastruktur jalan ke Amfoang, beberapa wilayah di Pulau Flores, beberapa wilayah di kabupaten Alor, dan wilayah lain dengan anggaran yang tidak sedikit.
Sebagai masyarakat, saya rasa perlu berterima kasih dan memanfaatkan fasilitas jalan ini untuk pembangunan di sektor lainnya. Betapa tidak, komoditas hasil bumi yang selama ini dijual murah di pelosok, bahkan tidak terjual karena akses ke pasar yang sulit, kini saya yakin nilai jualnya akan membaik.
Ibarat kata, pemerintah telah “mengayuh pedal sepeda kanan” lewat pembangunan infrastruktur jalan ke pelosok, masyarakat pun mesti “mengayuh pedal sepeda kiri” lewat (semisal) upaya meningkatkan produksi komoditas. Pemerintah dan masyarakat adalah satu kesatuan dalam mengayuh roda pembangunan. Dengan begitu roda pembangunan di daerah dapat terus berjalan lewat sinergi antara pemerintah dan masyarakat.






