Jumat, 15 Juli 2022

Memberdayakan Potensi Energi di NTT


Oleh: Krismanto Atamou

 


Hukum kekekalan energi menyatakan: energi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan, tetapi dapat berubah bentuknya dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Berdasar hukum kekekalan energi ini, sebenarnya dapat dipahami bahwa dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah kehabisan stok energi. Hanya saja, bentuk energi satu bisa habis jika berubah menjadi bentuk energi yang lain.

Demikianlah untuk kondisi di provinsi NTT, saya sependapat dengan Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat bahwa NTT memiliki energi terbarukan yang melimpah luar biasa. Berita Victory News pada Selasa, 12 Juli 2022 lalu Gubernur NTT menyampaikan potensi panas bumi, angin, yang mana tidak kalah dengan negara Cina bila dikembangkan.

NTT sebagai daerah kepulauan yang juga berada di cincin api (ring of fire) dunia, sebenarnya memiliki potensi energi berlebih. Lihat saja tiupan angin yang dibiarkan lewat begitu saja, semisal angin di pantai selatan pulau Timor. Lihat saja panas bumi di beberapa daerah yang hanya dijadikan objek wisata, semisal panas bumi di Tuti Adagae pulau Alor. Lihat saja banyaknya air terjun yang juga hanya dijadikan objek wisata, dan terkadang, itu pun tidak dikelola secara baik.

Lihat saja arus laut yang bergerak deras di beberapa titik perairan laut NTT. Semisal arus deras yang keluar masuk laut Mulut Kumbang-Alor. Semisal arus deras di selat Larantuka yang kini dalam proses persiapan pembangunan jembatan Pancasila Palmerah. Jembatan ini akan dilengkapi Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL). Semoga proyek jembatan Pancasila Palmerah ini bisa segera terlaksana setelah sekian lama tahun diwacanakan dan dipersiapkan.

 

Pengembangan dan Pemberdayaan EBT

“Bisnis membelokkan perkembangan teknologi,” kata akun Osmet Osmet di postingan akun Gunawan Wibisono pada 10 Juli 2022 lalu. Dalam postingan facebook itu, Gunawan menyampaikan sejarah mobil listrik di Amerika yang sudah ada sejak awal 1900-an. Namun kemudian mobil berbahan bakar fosil memenangkan bisnis dan kompetensi.

Setelah sekian lama politik bisnis energi fosil menguasai pasar dunia, kini isu energi bersih dan sehat menjadi isu yang urgen bagi kelestarian alam dan penghuni bumi. Isu energi bersih dan sehat “memanggil pulang” pengguna, pelaku bisnis, dan pemangku kebijakan transportasi untuk kembali menggunakan kendaraan listrik atau teknologi ramah lingkungan. Di titik ini, Energi Baru Terbarukan (EBT) menjadi mesti.

Saya mengapresiasi langkah Gubernur NTT dengan semangat keotonomian NTT dalam hal energi. Masih dalam pemberitaan Victory News tadi, Gubernur NTT menyatakan keinginan untuk menggunakan energi terbarukan dengan maksimum penghematan biaya. Saya rasa keinginan ini sangat bisa dilaksanakan mengingat keberlimpahan potensial EBT dan sumber daya manusia NTT yang saya yakin mampu.

Seorang kerabat saya lulusan SMA belajar kelistrikan secara otodidak dan akhirnya mampu bekerja di sektor kelistrikan di Bali. Kini ia sendiri memiliki badan usaha yang bergerak pada bisnis kelistrikan di Bali. Dalam satu kunjungan ke Bali beberapa tahun lalu, saya meminta pendapatnya tentang potensi energi mikrohidro yang ada di kampung kami Desa Padang Alang-Kecamatan Alor Selatan. Air terjun di Desa Padang Alang ada banyak dan tinggi-tinggi. Saya kaget ketika ia menyampaikan bahwa sejak lama ia telah berbicara dengan Kepala Desa.

Agar pembangkit listrik mikrohidro bisa berjalan baik, menurut Timatius Laumai, nama kerabat tersebut, hal yang dibutuhkan ialah debit air yang stabil, saluran air, dan infrastruktur bangunan turbin. Selanjutnya perangkat elektronik untuk menstabilkan arus listrik dan menyalurkannya, itu yang mahal. Juga dibutuhkan tenaga terampil untuk mengontrol kinerja turbin agar bekerja dengan baik. Tenaga terampil itu berperan merawat dan menangani gangguan instalasi listrik bila terjadi. Untuk tenaga terampil, bukankah NTT sudah punya sekolah kejuruan dan jurusan di perguruan tinggi yang menghasilkan tenaga terampil bahkan tenaga terdidik nan mumpuni?

Pemanfaatan energi alami seperti pembangkit listrik mikrohidro ini tentunya akan menimbulkan kesadaran manusia untuk lebih mencintai lingkungan hidupnya. Pemanfaatan energi alami ini menciptakan hubungan simbiosis mutualisme antara manusia dan alam. Manusia menjaga hutan, hutan “menjaga” debit air, air “memberikan” energi listrik bagi manusia yang menjaga hutan.

 

Energi Murah

Dalam berita Victory News, Gubernur NTT juga menyampaikan bahwa NTT lebih mahal membayar listrik dibandingkan DKI Jakarta. DKI Jakarta membayar 6 sen dollar per kWh sedangkan NTT membayar hingga 28 sen dollar per kWh. Lebih mahal 22 sen dollar per kWh. Untuk itu, saya kira, jika pemerintah pusat bisa mengeluarkan kebijakan Bahan Bakar Minyak (BBM) satu harga, mengapa biaya listrik tidak bisa satu harga? Dimana keadilannya?

Untuk mendapatkan ketersediaan energi yang murah, mungkin sudah saatnya pemerintah pusat memberi ruang kepada pemerintah daerah untuk membangun, mengembangkan, dan memberdayakan EBT-nya dalam kemandirian (otonomi) atau melalui kemitraan dengan pihak lain. Sekian.

Senin, 11 Juli 2022

Belajar dari Semesta


Oleh: Krismanto Atamou

 


Memanfaatkan waktu liburan kali ini, saya mengajak anak-anak bermain ke pantai Desa Fanating. Setelah bermain ombak di tepi pantai beberapa saat, Ben, anak saya yang berusia empat tahun berujar: “Ombak adalah air yang kuat.” Saya terkejut. Bagaimana anak sekecil itu sudah bisa menyimpulkan pengalamannya?

Saya lalu teringat teori yang mengatakan bahwa anak adalah orang dewasa muda. Begitulah sehingga dalam beberapa kesempatan, anak-anak membuat orang dewasa terkejut. Pasalnya, kadangkala anak-anak berlaku selayaknya orang dewasa dalam tutur maupun aksinya.

Untuk menguji pemahaman Ben terhadap konsep ombak yang baru saja ia ucapkan, saya bertanya: “Apa itu ombak, Ben?” Dia tidak menjawab. Mungkin dia sedang asyik dan menikmati bermain di pantai yang jarang ia temui. Atau mungkin kesimpulannya tentang ombak itu sebuah spontanitas atau refleks dari lakon hidup. Konteks spontanitas hidup seperti ini saya rasa telah menjadi bagian dari kealamian manusia sebagai makhluk sosial yang bisa berpikir dan merasa.

 

Kurikulum Semesta

Dari pengamatan saya terhadap Ben tadi, saya yakin anak-anak kita dapat memproduksi pengetahuannya sendiri dari pengalaman atau lakon hidup mereka sendiri. Kesimpulan Ben tadi saya kira tidak serta-merta. Sebelum kesimpulan itu muncul, ada rangkaian peristiwa yang melatari.

Sebelumnya, Ben dan kakaknya bermain membangun benteng dari pasir dengan panjang dan lebar sekira setengah meter. Seiring benteng pasir itu mereka bangun di sisi tertinggi pantai, air laut sedang pasang dan ombak terus menghantam pantai. Perlahan-lahan ombak menghantam bangunan benteng pasir yang mereka bangun lalu merobohkannya. Mereka berupaya menutup runtuhan dan membangun kembali benteng pasir.

Melihat bahwa upaya mereka akan sia-sia, bahwa mereka tak akan mungkin mampu melawan kekuatan ombak itu selamanya, saya menyarankan mereka untuk menyerah. Sang kakak menolak tegas. “Tidak!” katanya. Saya menyilakan. Sang kakak lalu membagi wilayah tanggung jawab dia dan adiknya untuk memperbaiki reruntuhan benteng pasir yang telah dihantam ombak.

Ombak mengikuti ketinggian pasang dan seiring waktu semakin memasuki wilayah benteng pasir mereka. Alhasil benteng pasir mereka porak-poranda dan mereka menyerah sendiri. Keduanya kembali membangun benteng pasir lebih ke arah darat dan dilanjutkan bermain air hingga kesimpulan Ben di awal tadi muncul.

Ternyata, apa yang mungkin kita lihat sebagai proses unfaedah (bermain benteng pasir di bawah ancaman terpaan ombak), telah menjadi kurikulum semesta untuk memproduksi pengetahuan anak. Dan ketika saya terkejut, sebenarnya saya telah menafikan proses bagaimana pengetahuan itu diproduksi lewat kolaborasi alam semesta dan alam berpikir anak. Mungkin beberapa orang tua seperti saya, atau bahkan lebih parah: melarang anak untuk mengalami kurikulum semesta.

 

Sisi Negatif Kata Jangan

“Berapa banyak pelajaran dari semesta kepada anak yang harus teranulir karena kata ‘jangan’? Banyak.” Begitu kira-kira kata alm. Munif Chatib, seorang praktisi pendidikan, dalam bukunya berjudul: Orang Tuanya Manusia.

Seringkali orang tua spontan melarang anak dengan kata jangan. Dan sayangnya, kata jangan itu tanpa diikuti penjelasan: mengapa jangan. Dalam posisi seperti ini, aktivitas fisik dan non-fisik anak dihentikan paksa secara tiba-tiba. Kata jangan, apalagi disertai bentakan, akan membuat bangun jalin sel saraf yang mulai terhubung satu sama lain di otak anak terhenti. Padahal bangun jalin sel saraf ini penting bagi anak.

Munif Chatib menjelaskan: kata jangan, apalagi dengan bentakan, membuat inisiatif anak untuk berkreasi melakukan sesuatu terhenti. Situasi ini dalam jangka panjang akan membunuh inisiatif dan kreativitas anak. Dan dapat dibayangkan bagaimana generasi bertumbuh tanpa inisiatif di dalam dirinya.

Setelah membaca beberapa buku karya Munif Chatib, sedapat mungkin saya berupaya menghindari kata jangan. Walaupun dalam kenyataannya sulit, apalagi jika sudah terbiasa, apalagi pola asuh dengan kata jangan sudah menjadi pola asuh warisan.

 

Saran

Memang terasa lebih mudah bagi orang tua berkata ‘jangan’ tanpa penjelasan. Pola asuh seperti ini tidak merepotkan. Namun Munif Chatib menyatakan, pola asuh seperti ini justru akan merepotkan di masa mendatang. Anak yang tumbuh tanpa inisiatif diramalkan akan sulit mandiri, sulit mencoba hal-hal baru, sulit berpikir kritis, sulit berani, sulit berpendapat, dan sulit bertanggungjawab di masa mendatang.

Untuk itu, kata jangan sebaiknya diganti dengan bahasa yang mudah dipahami anak. Semisal bahasa “Jangan berteriak!” kepada si kecil diganti dengan bahasa “Ayo bercerita.” Bahasa “Jangan mencoret dinding,” diganti bahasa “Kalau kamu coret di buku gambar, pasti hasilnya akan lebih bagus.” Bahasa “Jangan menangis,” diganti bahasa “Mau pilih yang mana? Menangis atau minum susu?”

Dan sebaiknya ruang dan waktu bagi anak untuk bermain dan belajar dari semesta dibuka seluas-luasnya. Ini tidak hanya demi menikmati kurikulum semesta dalam rangka membangun kecerdasan naturalis anak, tetapi juga membangun berbagai kecerdasan lain yang melimpah dari kurikulum semesta kita.

Sabtu, 02 Juli 2022

Damai itu Indah




Oleh : Krismanto Atamou

 

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah (Matius 5:9). Ayat Injil ini mengajak umat untuk hidup berdamai dengan semua pihak, demikian khotbah Pdt. Aristoteles Benyamin Sandy, S.Th di GMIT Jemaat Eklesia Amadoke Semau Selatan beberapa waktu lalu. Pdt. Aristoteles saat ini sudah pindah ke GMIT Jemaat Eklesia Piaklain-Semau.

Setali tiga uang dengan penyampaian Pdt. Aristoteles, beberapa saat lalu di radio Dian Mandiri Alor, Ryla, pembawa acara “Jembatan Kasih” menyinggung ayat ini dalam renungannya. Melalui frekuensi radio 90.5 FM, dengan tagline “Bikin hidup lebih baik”, Ryla menyampaikan bahwa salah satu tujuan Tuhan menciptakan bumi adalah kehidupan yang damai.

Merenungi ayat ini, saya teringat kejadian di awal pandemi Covid-19 pada April 2020 lalu. Kala itu seorang paman saya meninggal dunia mengikuti istrinya yang telah lebih dahulu meninggal dunia pada 2011 lalu. Mendiang suami-istri ini meninggalkan tiga orang anak perempuan yang masih bersekolah di SMP dan SMA.

Satu hari setelah pemakaman, terjadilah perbincangan antara keluarga besar dari mendiang suami-istri. Keluarga mendiang istri menginginkan untuk mengambil dan memelihara seorang anak dari tiga anak yang ditinggalkan almarhum-almarhumah. Tujuannya keluarga mendiang istri ialah agar keeratan hubungan dan keharmonisan antar keluarga, yang telah dibangun selama ini oleh mendiang suami-istri, tetap terjaga melalui anak yang dipelihara oleh dua pihak keluarga.

Untuk menjawab permintaan keluarga mendiang istri ini, saya sebagai salah satu keluarga mendiang suami diberi kepercayaan sebagai juru bicara (jubir) untuk menjawab. Sayangnya permintaan kepada saya itu disertai sebuah tekanan: tidak boleh melepaskan satu anak pun kepada keluarga mendiang istri. Beruntungnya, tekanan itu tanpa rincian sehingga memberi ruang bagi saya untuk berkreasi.

Memperhitungkan win-win solution dan wasiat almarhum paman untuk tidak boleh memisahkan ketiga anaknya, saya menyampaikan: Ketika anak-anak ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, adalah wajar jika tanggung jawab pengasuhan anak-anak diberikan kepada keluarga mendiang suami-istri. Meski begitu, perlu diingat bahwa mendiang suami-istri sebagai pekerja tetap telah mewariskan sebuah tanah, rumah, dan gaji pensiun untuk ketiga anaknya. Di rumah yang berada di tengah kota Kupang ini, ada juga kakak-kakaknya yang menumpang untuk kuliah. Saya kira adalah lebih baik jika ketiga anak ini tetap tinggal di rumah warisan mereka. Mereka dijaga dan diasuh oleh kita kedua belah keluarga, kakak-kakak mereka yang sedang kuliah, dan para tetangga sebagai keluarga terdekat.

Mendengar jawaban itu, adik mendiang istri melalui jubirnya masih ingin mengambil anak yang bungsu. Pembicaraan sedikit memanas. Namun ketika saya menyilakan ketiga anak menyampaikan wasiat mendiang ayah mereka agar tidak boleh hidup terpisah, sontak momen itu menjadi haru. Kedua pihak keluarga tak kuasa menitikkan air mata lalu berdamai dan bersepakat: ketiga anak tetap tinggal di rumah warisan orang tuanya agar tidak terpisah sesuai wasiat mendiang ayah mereka.

 

Asa Perdamaian Rusia-Ukraina

Berangkat dari kisah ketiga anak yatim-piatu tadi, saya yakin harga untuk sebuah perdamaian tidak harus diikuti adanya perpisahan apalagi perang. Semuanya bisa melalui dialog dan saling memahami satu sama lain.

Untuk itu, saya sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sangat mengapresiasi langkah Presiden Jokowi yang menggunakan jalan dialog sebagai upaya damai kepada Negara Rusia dan Ukraina yang saat ini sedang berperang. Apalagi dengan kerelaan beliau menempuh perjalanan jauh yang menguras stamina untuk hadir langsung di lokasi konflik. Saya yakin itu wujud ketulusan Presiden Jokowi untuk menyadarkan kedua belah pihak tentang dampak negatif perang yang perlu diakhiri.

Presiden Jokowi adalah pembawa damai. Dalam agama atau kepercayaan apa pun, saya kira damai adalah salah satu isu penting yang perlu diperjuangkan dan dipertahankan. Tanpa damai, kehidupan akan sulit.

Konon punahnya sebuah bahasa daerah di Mesir berawal dari permusuhan dua orang pewarisnya. Para pegiat budaya berupaya mendamaikan kedua pewaris bahasa ini agar keduanya bisa berkomunikasi dan bahasa mereka bisa didokumentasikan. Sayangnya upaya mereka gagal. Ketidakdamaian tidak hanya mempersulit, tetapi juga bisa memusnahkan kehidupan dan sendi-sendinya, hal yang sebenarnya tidak diinginkan siapa pun.

Beberapa hari lalu saya bercakap dengan anak tengah dari tiga anak yatim-piatu yang saya ceritakan di awal. Saat ini ia adalah salah satu siswi berprestasi dan mendapat beasiswa Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Ia merasakan bahwa semenjak perang Rusia-Ukraina, harga-harga barang kebutuhannya secara perlahan meninggi. Ia berharap misi Presiden Jokowi untuk mendamaikan Rusia-Ukraina berhasil dan berimbas ke ekonomi yang membaik.

Sebagai umat beragama dan berkepercayaan, saya kira kini saatnya semua warga NKRI berdoa agar upaya damai Rusia-Ukraina yang dilakukan oleh Presiden Jokowi berhasil. Sebab bagaimanapun, damai itu indah.

Jumat, 24 Juni 2022

Asa Wirausahawan Baru


Oleh: Krismanto Atamou



 

Hidup ini tidak sehitam-putih yang diajarkan di kelas, tidak sehitam-putih kebenaran dan kesalahan, ada banyak variasi lain yang bisa kita argumentasikan dengan baik untuk memperoleh jawaban yang memuaskan. Begitu kata Martin Suryajaya di channel youtube-nya dengan konten “Belajar Berpikir Kritis”.

Sengaja saya mengutip perkataan Martin ini sebagai landasan untuk mengulas masalah langgam apresiasi dan hambatan hak istimewa sosial (privilege) terhadap wirausahawan baru. Sebab menjadi rahasia umum bahwa merintis usaha sebagai wirasusahawan baru tidaklah mudah. Apalagi di kultur masyarakat yang anggotanya belum terbiasa berwirausaha, ketika salah satu anggota masyarakat berwirausaha, terkadang membuat anggota masyarakat lainnya merasa aneh, iri, merasa tersaingi, bahkan “tidak nyaman”.

Untuk itu, seolah ada upaya tiga kali lipat lebih sulit bagi setiap anggota masyarakat tanpa kultur wirausaha untuk berwirausaha. Pertama, mematahkan stigma untuk tidak bisa berwirausaha berdasarkan hak istimewa sosial (privilege). Kedua, menghadapi “ketidaknyamanan” anggota masyarakat lain yang mungkin saja berujung “pengungkungan” dengan berbagai cara, bahkan cara “gelap”. Ketiga, masalah umum yaitu modal, lokasi, infrastruktur, mitra kerja, manajemen, dan legalitas.

Begitulah beberapa hari lalu El, seorang wirausahawan muda di Kalabahi, Alor mendapat “kunjungan” dari pemerintah setempat terkait usaha kuliner yang baru ia rintis. Pemerintah setempat secara lisan menyampaikan keluhan warga yang merasa “tidak nyaman” dengan asap yang dihasilkan saat mengolah kuliner.

El memvideokan di facebook secara live “kunjungan” oknum pemerintah tersebut. Sontak postingan video itu memantik simpati publik yang membagikan dan berkomentar untuk mendukung El. Tentu peristiwa di video yang viral ini tidak bisa dibaca secara hitam putih karena keterangan di video masih minim data.

 

Mematah “Kutukan” Privilege

Berbicara asa wirausahawan baru, kali ini saya ingin mengulas tentang jegalan privilege dalam berwirausaha. Mengapa? Karena masih ada anggapan bahwa dengan privilege yang baik mutlak menjadi modal dalam berwirausaha.

Ibarat anak tangga, privilege adalah di tangga ke berapa kita berdiri untuk mencapai kesuksesan. Walau privilege bisa menjadi salah satu modal untuk sukses, saya rasa privilege bukanlah jaminan utama kesuksesan. Pasalnya, privilege dapat menjadi bumerang jika disalahgunakan.

Oleh karena itu, saya kira terbuka peluang bagi siapa pun untuk mematahkan “kutukan” privilege dan menanjak di tangga sosial. Apalagi setelah pemerintah pusat memberikan ruang bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) bertumbuh lewat payung regulasi dan bantuan lainnya.

Untuk mematahkan “kutukan” privilege tentu tidak cukup sekedar mengeluh atau berwacana. Diperlukan keberanian untuk memulai atau mencoba. Ketika gagal, coba lagi dan lagi. Sebuah pepatah perihal berwirausaha mengatakan: setiap orang perlu menghabiskan stok kegagalannya sebelum meraih kesuksesan.

Begitulah ketika kita melihat kegemilangan seorang wirausahawan, itu tidak terlepas dari pengalaman gagal. Sebab kejayaan wirausahawan saat ini adalah hasil dari jalan sunyi, hari-hari penuh tekanan, ketekunan, dan keuletan. Saya kira tekanan demi tekanan inilah yang sedang dialami El kali ini. Dalam postingan yang lain, El menyampaikan kehilangan perahu untuk usaha rumput laut.

Dalam video yang viral itu beberapa kali El mengatakan: ini semata-mata karena ekonomi. Tidak ada maksud lain. Mengingat bahwa Alor adalah negeri dengan toleransi tinggi dan usaha kuliner El tidak bisa dikonsumsi oleh agama dan kepercayaan tertentu, El perlu mengambil posisi yang tepat.

Syukurlah masalah El akhirnya tertangani dengan baik oleh pemerintah dan aparat penegak hukum setempat. Video yang viral akhirnya dihapus demi menjaga suasana yang harmonis.

Belajar dari El saya kira wirausahawan baru tidak perlu takut untuk melangkah. Apapun privilege kita dan sesulit apapun tantangan,yang akan kita hadapi, pasti ada jalan keluarnya. Novelis Paulo Coelho memiliki sebuah ungkapan terkenal: Bila anda menginginkan sesuatu, alam semesta berkonspirasi untuk membantu anda mencapainya.

 

Berdayakan Medsos

Bahasa Paulo Coelho yaitu alam semesta berkonspirasi, kata “alam” bisa diartikan pula alam media sosial (medsos). Dan bukan hal baru lagi medsos dapat diberdayakan untuk mendukung wirausaha. Dukungan itu tidak semata dalam hal promosi, tetapi juga dalam hal berbagi ilmu atau kiat berwirausaha.

Di sisi lain, medsos bisa juga dipakai untuk mendokumentasikan bukti dugaan ketidakadilan yang mungkin saja dilakukan oleh oknum-oknum tertentu terhadap para wirausahawan. Dengan begitu, aparat penegak hukum mudah untuk memberikan perlindungan, mengidentifikasi, dan mengusut kasus bila sampai terjadi.

***

Kembali ke bahasa Martin Suryajaya di awal: hidup ini tidak sehitam-putih yang diajarkan di kelas. Begitu pula dalam berwirausaha, selain ilmu dari sekolah, ada banyak “ilmu jalanan” yang hanya bisa diperoleh ketika kita terjun langsung menjadi pelaku wirausaha. Berbekal ilmu dan dukungan semesta (termasuk medsos yang diberdayakan), saya yakin siapa pun yang sedang menapaki dunia wirausaha bisa mencapai kesuksesan, asal tidak mudah menyerah.

 

Minggu, 19 Juni 2022

Ikatan Guru Indonesia untuk Siapa?


Oleh: Krismanto Atamou

Wakil Ketua IGI Wilayah NTT

 



Pada Senin 20 Juni 2022 di aula kantor Dewan Perwakilan Daerah (DPD) NTT akan diadakan pelantikan Badan Pengurus Ikatan Guru Indonesia (BP IGI) daerah pada beberapa kabupaten di NTT. Beberapa daerah tersebut yaitu Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Kabupaten Rote Ndao.

BP IGI Daerah yang baru dibentuk ini akan dilantik oleh BP IGI wilayah NTT. Selanjutnya,  BP IGI daerah baru akan mendapatkan materi Pelatihan Manajemen Organisasi (PMO) IGI tingkat dasar yang dibawakan oleh BP IGI pusat.

Kegiatan pelantikan BP IGI daerah ini terlaksana oleh panitia yang diketuai oleh Lidyasih Widyanti, sekertaris Katrina Radja, bendahara Susan Porwata, didukung oleh BP IGI wilayah NTT, dan berbagai pihak terkait.  Kegiatan pelantikan ini merupakan upaya IGI untuk menjangkau lebih banyak guru di seluruh daerah se-Indonesia. Pasalnya, sejak didirikan tahun 2009 lalu hingga kini, belum semua guru yang tahu IGI dan berkecimpung dengan IGI. Hal ini menimbulkan pertanyaan: IGI itu apa? Dan untuk apa?

IGI adalah sebuah organisasi pendidikan yang beranggotakan guru, dosen, dan pemerhati pendidikan di Indonesia. Di dalam anggaran dasarnya, visi IGI ialah menjadi organisasi profesi guru yang mandiri, profesional, inklusi, berwawasan global, dan mencerdaskan. Salah satu misinya ialah melaksanakan kegiatan yang berkaitan dengan penguasaan teknologi untuk mendukung profesionalitas guru. Poin ini cocok dengan opini yang ditulis oleh Ani Yovita Selay berjudul “G20 dan Digitalisasi dalam Pendidikan” yang terbit di Victory News pada Selasa 14 Juni 2022 lalu.

Lalu, IGI untuk siapa? Menjawab ini, saya mengacu pada tujuan IGI di anggaran dasarnya. Satu, meningkatkan mutu, profesionalisme, perlindungan, daya saing, dan kesejahteraan guru. Dua, memperkuat nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan anti korupsi. Tiga, memperkuat kompetensi pedagogi, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Empat, menjadi teladan bagi peserta didik dan lingkungan. Lima, membangun budaya literasi di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Enam, melakukan pengabdian pada masyarakat.

Dari uraian tujuan IGI di atas, jelas terlihat bahwa IGI bertujuan untuk mempersiapkan guru sebagai model dan penggerak bagi kemajuan dunia pendidikan di Indonesia. Sasarannya jelas menargetkan peningkatan kompetensi guru yang kelak berdampak bagi masyarakat dan bangsa Indonesia. Pola ini tentu akan mengingatkan kita pada kisah klasik mengenai tindakan Kaisar Hirohito setelah peristiwa pemboman Hiroshima-Nagasaki.

Sejak saya bergabung dengan IGI pada 2018 lalu, terasa sekali banyak kemudahan untuk mengakses kanal-kanal pelatihan guru. Kanal-kanal pelatihan itu dilaksanakan oleh para guru yang telah berkompeten di bidangnya untuk saling berbagi secara gratis. Hal ini sesuai dengan motto IGI: Sharing ang Growing Together atau berbagi dan tumbuh bersama.

Sejak terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM dengan surat keputusan nomor AHU-125.AHA.01.06 Tahun 2009, jumlah anggota IGI kini telah mencapai 161.747 anggota. Untuk wilayah NTT anggota IGI telah mencapai 1.413 anggota. Untuk mendaftar menjadi anggota IGI melalui website resminya yaitu www.igi.or.id.

Saat ini ada 67 kanal pelatihan yang dapat diakses oleh guru. Beberapa diantaranya yaitu SAGUSANOV (Satu Guru Satu Inovasi), SAGUSAMIK (Satu Guru Satu Komik Pembelajaran), SAGUSAKU (Satu Guru Satu Buku), Metode MENEMUBALING (Menulis dengan Mulut, Membaca dengan Telinga), SAGUSAVI (Satu Guru Satu Video Pembelajaran), SAGUSAPOINTER (Satu Guru Satu Powerpoint Interaktif), Maluku Belajar, dan SAGUDIHATI (Satu Guru Mendidik dengan Hati).

Saya sendiri telah mengikuti pelatihan di beberapa kanal yang sangat bermanfaat bagi pengembangan diri saya. Dari situ saya bisa membangun website sekolah tempat saya bekerja menggunakan platform yang sederhana dan tanpa biaya. Hasil berikut yaitu sebuah film pendek bertema pendidikan berjudul “Semangat Belajar Anita” yang saya upload ke YouTube.

Beberapa waktu lalu, IGI wilayah NTT menghasilkan satu buku ber-ISBN berjudul Guru Kehidupan. Buku ini diinisiasi oleh kanal Kelas Menulis IGI NTT. Berawal dari pelatihan menulis kepada beberapa anggota, sebagai tindak lanjut, setiap peserta pelatihan Kelas Menulis IGI NTT dibimbing hingga menghasilkan karya tulis. Kumpulan karya tulis itulah yang kemudian diproses menjadi buku “Guru Kehidupan”.

Saat ini, beberapa anggota IGI di NTT sudah berhasil di tingkat nasional. Ketua Wilayah IGI NTT, Meky da Cunha, S.Pd, M.Si misalnya, kini telah lolos seleksi dan bertugas menjadi pendamping Guru Penggerak Angkatan IV di wilayah NTT. Beberapa anggota IGI NTT tengah mengikuti pendidikan dan pelatihan sebagai calon guru penggerak saat ini, salah satunya ialah sekretaris IGI wilayah NTT Muhammad Kasim, S.Pd. Dalam hal ini, IGI bermitra dan bersinergi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Selamat mengabdi badan pengurus IGI daerah yang baru dilantik. Sharing and Growing Together untuk memajukan pendidikan di Indonesia. 

Rabu, 15 Juni 2022

Gerson Poyk: Sang Legenda dari NTT




Oleh : Krismanto Atamou

 

Senin, 13 Juni 2022 lalu melintas di beranda akun Facebook saya postingan dari Fanny J. Poyk. Penulis novel “Gizzara” ini adalah anak dari Gerson Poyk, sang Maestro Sastra asal NTT. Ia membagikan postingan dari akun Sahadewa terkait peringatan Hari Sastra NTT 2022 yang akan dilaksanakan pada Kamis, 16 Juni 2022 mulai pukul 16.00 WITA di Taman Budaya Gerson Poyk,  Oepoi, Kota Kupang, NTT.

Acara Hari Sastra NTT 2022 ini terbuka untuk umum. Pada acara yang diselenggarakan oleh Dusun Flobamora dan Dedari Art Institute ini, sesuai flyer, akan diadakan kegiatan baca puisi, bedah buku, musikalisasi puisi, tari, dan lain-lain. Salah satu buku yang akan dibedah ialah buku kumpulan puisi karya Dewa Putu Sahadewa berjudul Siwanggana.

 

Cerpen Matias Akankari

Rasanya tidak sah jika kita mengenang alm. Gerson Poyk tanpa mengetahui karya-karyanya. Dari banyak karya, kali ini saya sedikit mengulas salah satu karya beliau yaitu cerita pendek (cerpen) Matias Akankari.

Cerpen berjudul Matias Akankari merupakan salah satu dari sekian cerpen dalam buku antologi cerpen Matias Akankari yang diterbitkan oleh Penerbit Nusa Indah, Ende (1975). Cerpen ini dimulai dengan cerita singkat pertemuan antara Matias Akankari dan seorang prajurit parasutis di Irian Jaya, nama Papua dulu. Matias yang tidak bisa berbahasa Indonesia kemudian menjadi pemandu yang menyelamatkan sang parasutis keluar dari hutan Papua. Matias dibawa oleh sang parasutis pulang ke ibukota Jakarta. Sang parasutis memberi Matias pakaian bagus untuk dipakai lalu membawa Matias pergi menonton film. Saat Matias sedang asik menonton film, sang parasutis meninggalkan Matias sendirian dan pulang.

Matias nyasar di ibukota Jakarta. Dia dikira pejabat dari Papua yang beruang banyak sehingga dibawa pulang oleh seorang pelacur. Matias tidak punya uang untuk membayar sehingga diusir.

Matias berjalan tak tentu arah di ibukota Jakarta hingga hingga bertemu orang-orang yang ia kasihani. Tak punya uang, Matias memberikan pakaiannya kepada orang yang membutuhkan itu lalu kembali memakai koteka, pakaian tradisional Papua.

Penampakan Matias dengan kotekanya di ibu kota Jakarta membuat ia menjadi pusat perhatian orang-orang. Ia nyasar ke sebuah klub malam dan ikut menari di panggung. Ia menjadi terkenal dan banyak uang. Akhir cerita, Matias pulang ke Papua dan menceritakan pengalamannya kepada orang-orang sekampung. Ia bercerita: ternyata kehidupan high class di ibu kota Jakarta sama saja dengan di Papua, sama-sama pakai cawat.

Begitulah ringkasan cerpen Matias Akankari. Membaca cerpen lengkapnya sangat saya rekomendasikan untuk melihat bagaimana Gerson Poyk menampilkan berbagai sisi kehidupan yang diringkas dalam sebuah cerpen. Hal menarik dari cerpen ini adalah upaya Gerson Poyk untuk menampilkan sosok polos seorang pedalaman Papua bernama Matias Akankari dan sikap oportunis seorang prajurit parasutis. Matias sebagai tokoh protagonis dan sang parasutis sebagai tokoh antagonis.

Bagi saya, cerpen ini seolah sindiran Gerson Poyk terhadap oknum “orang kota” yang jahat terhadap orang pelosok. Dalam cerpen ini, Matias yang telah berbaik hati menolong sang parasutis di hutan Papua, justru kemudian ditelantarkan di kota Jakarta. Miris.

 

Warisan Sang Legenda

Seniman Gerson Poyk yang telah berpulang ke hadirat Tuhan pada 24 Februari 2017 lalu ini banyak memiliki karya besar. Ia dikebumikan di TPU Fatukoa, Kota Kupang. Tahun lalu saya berziarah ke makam beliau. Di batu nisan beliau juga tertulis: “Aku ingin pulang kampung tanam jagung dan makan jagung bose, tidurkan aku di tempat ini sehingga aku tetap menjadi sosok yang mengusung sisi humanis, normatif, penuh dengan nilai-nilai etis moral.”

Gajah mati meninggalkan gading, begitupun ketika Gerson Poyk berpulang telah meninggalkan banyak karya besarnya bagi bangsa ini. Karya-karya itu bahkan telah diterjemahkan ke berbagai bahasa, semisal bahasa Jerman, bahasa Rusia, bahasa Jepang, dan bahasa Inggris.

Selain karya tulis, Gerson Poyk juga mewariskan semangat hidup saling mengasihi. Pada Channel Youtube Indonesia SIKA tahun 2017 lalu, Gerson Poyk bercerita bahwa hidupnya dengan seniman yang lain sudah seperti saudara. Kala ada teman yang susah, beliau membantu. Keteladanan hidup saling membantu antara seniman ini saya ketahui dari postingan facebook milik Fanny J. Poyk bernama akun Fanny Jonathans beberapa waktu lalu.

Kak Fanny, begitu saya menyapanya, kini juga telah menjadi penulis senior mengikuti jejak ayahnya. Tak kalah dengan sang ayah, karya-karya Kak Fanny juga telah menghiasi halaman media-media nasional Indonesia.

Di Hari Sastra NTT yang ditetapkan sesuai tanggal lahir almarhum Gerson Poyk ini, Kak Fanny akan hadir. Saya meminta Kak Fanny untuk membawa buku-bukunya juga buku-buku alm. Gerson Poyk agar bisa dibeli dan dinikmati oleh banyak orang. Pasalnya, saya rasa masih belum banyak orang NTT yang sudah membaca karya-karya Gerson Poyk sebagai Sang Legenda yang telah mengharumkan nama NTT di tingkat nasional bahkan Internasional.

Selamat Hari Sastra NTT tahun 2022.

Senin, 13 Juni 2022

Jalan Meretas Keterisolasian


Oleh : Krismanto Atamou




 

Dulu, sewaktu saya masih bertugas di Desa Oelbanu, Kecamatan Amfoang Selatan, jalanan dari dan ke sana sangat parah. Itu terutama jalan yang memasuki wilayah Kecamatan Amfoang Selatan dan sekitarnya. Sulit.

Kala itu jalan poros utama Kecamatan Takari menuju Amfoang masih lebih baik. Oleh karena itu, sebagian pesepeda motor merasa bahwa: jika dari Amfoang sudah sampai wilayah Takari, itu terasa seperti sudah berada di Kota Kupang, karena jalanannya sudah lumayan baik.

Kendaraan umum yang memasuki wilayah Amfoang kala itu masih didominasi oleh bus. Kendaraan pick up sepengetahuan saya tidak ada. Mungkin karena pick up memiliki ground clearance yang tipis sehingga sulit bermanuver di medan jalan yang rusak parah.

Ground clearance adalah jarak ruang di antara dasar dari ban kendaraan dengan bagian bawah chassis. Dalam bahasa Melayu Kupang ground clearance mungkin bisa disepadankan dengan kolong oto, yaitu ruang kosong di antara permukaan jalan dan bodi bawah oto. Nah, kalau kolong oto pendek, saat melewati jalan rusak, akan mudah tatoki alias terbentur. Salah-salah oto (kendaraan roda empat) bisa rusak.

Bahkan untuk sekelas bus saja, untuk kawasan Amfoang, hanya sopir itu-itu saja yang berani mengemudikan bus penumpang. Butuh nyali besar untuk bertanggung jawab terhadap nyawa sekian penumpang dalam bus sambil berupaya menaklukkan jalanan yang parah.

Kondektur atau konjak bus jurusan Amfoang memiliki tanggung jawab cukup besar. Tidak hanya berteriak mencari penumpang, menaikkan barang penumpang ke bus, menata penumpang dalam bus, menjaga barang penumpang agar tidak hilang atau tertukar, menagih biaya perjalanan kepada penumpang, menjadi asisten mekanik saat bus rusak, tetapi juga membantu supir mengeluarkan roda bus jika roda tersebut masuk (tatanam) dalam lumpur. Saat bus sedang mendaki, konjak mesti memikul ganjaran sambil berlari di sisi bus. Takutnya bus tiba-tiba kehilangan daya, lalu mesin mati, maka konjak harus segera mengganjar ban bus dengan ganjaran yang dipikulnya agar bus tidak mundur dan terbalik.

 Kalau musim hujan, keterisolasian kawasan Amfoang sungguh memilukan, terutama Amfoang bagian pantai. Ada cerita mereka (penumpang bus, sopir, dan konjak) harus tidur berhari-hari di pinggir sungai. Mereka menunggu banjir reda sebelum menyeberang dengan bus yang ditumpangi.

Dari semua jalanan pelosok yang saya tempuh dengan sepeda motor, ada jalan yang paling unik, yaitu jalan dari pusat Kecamatan Amfoang Barat Daya ke Desa Nefoneut melewati bantaran kali. Uniknya ialah jika jalanan terputus oleh banjir atau pohon tumbang, pelintas boleh membuat jalan sendiri. Terkadang jalan yang baru dirintis itu melewati kebun-kebun orang dan harus membongkar pagar kebun orang. Jadi pelintas bebas membuat jalan sendiri di hutan dan kebun sepanjang bantaran kali.

Ada juga titik jalan raya yang memiliki pintu gerbang dan sistemnya buka-tutup sendiri. Gerbang biasanya terbuat dari kayu dan bambu. Gerbang ini biasanya berfungsi sebagai pagar kompleks kebun atau perkampungan. Jika gerbang dibukakan oleh warga sekitar maka mesti mengucapkan terima kasih atau memberi imbalan sepantasnya.

Jalan sulit di daerah terpencil biasanya menjadi ajang untuk menyalurkan sifat gotong royong. Jika melihat suatu kendaraan sulit melintas, kecelakaan, atau rusak di jalan, biasanya selalu saja ada malaikat berwujud orang yang datang dan menolong. Pertolongan itu tulus dan gratis.

Saya kira selain Amfoang, masih banyak daerah terpencil dan terisolir lain dengan cerita sulit yang sama. Cerita yang sudah membiasa sehingga terkadang bagi warga terpencil, kondisi sulit ini menjadi hal biasa, bukan untuk dikeluhkan.

 

Sinergi

“Indonesia telah merdeka puluhan tahun, tapi kami di sini belum ‘merdeka’?” Begitu biasanya keluhan orang-orang tertentu karena ketimpangan pembangunan. Saya kira wajar sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, warganya meminta pelayanan dari negara. Namun sebagai warga negara, sadar atau tidak, keputusan politik setiap warga negara saat pemilihan umum (Pemilu), turut menentukan siapa yang mewakilinya sebagai legislator, kepala pemerintahan, atau kepala daerah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhannya.

Pada titik ini maka (salah satunya juga) pemilu menjadi momentum pertaruhan pembangunan infrastruktur jalan. Jalan yang baik dan berkualitas akan meretas keterisolasian dan segala cerita miris yang telah saya jabarkan dari awal tulisan ini.

Begitulah saya rasa sebagai masyarakat kita perlu bersyukur karena pada pemilu kali lalu kita telah memilih orang atau pemimpin yang tepat. Kehadiran mereka telah menjawab permasalahan akses jalan di negara kita, termasuk di seluruh penjuru provinsi NTT.

Walk the talk atau melaksanakan apa yang dikatakan adalah salah satu ciri pemimpin yang baik. Dan saya kira, ciri ini ada pada Presiden Jokowi, Gubernur NTT, dan beberapa pemimpin lainnya. Kala kampanye beberapa tahun lalu, Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menyatakan niatnya untuk melaksanakan pembangunan jalan raya di NTT. Ternyata niat ini benar-benar beliau laksanakan. Contohnya yaitu pembangunan infrastruktur jalan ke Amfoang, beberapa wilayah di Pulau Flores, beberapa wilayah di kabupaten Alor, dan wilayah lain dengan anggaran yang tidak sedikit.

Sebagai masyarakat, saya rasa perlu berterima kasih dan memanfaatkan fasilitas jalan ini untuk pembangunan di sektor lainnya. Betapa tidak, komoditas hasil bumi yang selama ini dijual murah di pelosok, bahkan tidak terjual karena akses ke pasar yang sulit, kini saya yakin nilai jualnya akan membaik.

Ibarat kata, pemerintah telah “mengayuh pedal sepeda kanan” lewat pembangunan infrastruktur jalan ke pelosok, masyarakat pun mesti “mengayuh pedal sepeda kiri” lewat (semisal) upaya meningkatkan produksi komoditas. Pemerintah dan masyarakat adalah satu kesatuan dalam mengayuh roda pembangunan. Dengan begitu roda pembangunan di daerah dapat terus berjalan lewat sinergi antara pemerintah dan masyarakat.