Minggu, 22 Desember 2019

IBU, PAHLAWANKU

Oleh : Krismanto Atamou

Senja membayang di sudut kota. Bayangan mentari memanjang hingga jauh dan menaungi gerobak ibu yang menjual nasi kuning di sisi timur sebuah bangunan kantor tua. Bangunan itu sudah lama tidak ditempati. Kesan angker dan seram tak mengurangi niat ibu untuk berjualan di situ.
“Lokasinya strategis,” kata ibu suatu kali saat Om Min bertanya apa alasannya bertahan di tempat angker itu.
“Tapi kan masih ada lokasi lain yang juga strategis?” sanggah Om Min.
“Aku sudah nyaman di sini, Dek,” jawab ibu.
Untuk berjualan di situ awalnya gratis oleh petugas keamanan kantor yang lama. Ia kasihan melihat kondisi keluarga ibu, hanya dengan satu syarat: ibu membantunya membersihkan lingkungan kantor. Semenjak meninggalnya petugas yang baik hati itu, ia diganti petugas yang baru. Petugas baru meminta jatah keamanan. Awalnya hanya sukarela jumlahnya. Seiring waktu, ia meminta lebih.
Hasil keuntungan dari jualan ibu tak sanggup untuk membayar petugas. Entah itu petugas benaran atau bukan. Ia tak pernah menggunakan pakaian dinas atau menyerahkan bukti karcis setoran keamanan. Ibu mengeluh, tapi tidak pernah disampaikannya padaku.
Ibuku seorang pembohong. Ia selalu berupaya tampil tegar di hadapanku, serasa semuanya berjalan normal. Namun sesungguhnya ibu menyimpan tekanan yang mendalam. Semenjak sepeninggalan ayah, ibu berupaya menjadi ayah dan ibu bagi aku dan adik-adik.
“Ibu, boleh aku membantu ibu berjualan?” kataku. Aku ingin mengurangi ketergantungan ibu pada lokasi jualan dengan biaya mahal itu. Aku tahu, ibu membutuhkan biaya untuk menghidupi keluarga kecilnya sebagai orang tua tunggal.
Adik-adikku masih kecil-kecil. Ani baru berusia tiga tahun, sedangkan Sarus baru berusia tujuh tahun. Aku sudah kelas tujuh SMP sekarang.
Saat ayah meninggal dunia, aku masih kelas lima sekolah dasar. Itu dua tahun lalu. Sebelum meninggal, ayah mengalami depresi karena pekerjaannya yang penuh dengan tekanan. Sebagai bendahara, ia sering ditekan untuk membuat laporan keuangan fiktif dan menggelapkan dana perusahaan bagi kebutuhan oknum pejabat atau orang-orang atas. Itu sangat bertentangan dengan hati nuraninya sebagai orang tokoh agama yang saleh.
“Biar sedikit penghasilanmu, yang penting halal, Pak,” kata ibu menguatkan ayah yang hampir selalu cemberut ketika pulang dari kantor. Ibu  adalah motivator yang baik, bahkan bagi siapa pun yang membutuhkan. Beruntung ada ibu, yang selalu mendampingi ayah. Namun semua kata motivasi indah itu tidak berdampak lama.
Sebulan kemudian ayah mendengar bahwa ia dipecat secara sepihak dari perusahaan tempatnya bekerja. Berita buruk itu membuat ayah terkena serangan jantung lalu meninggal dunia. Dengan terpaksa ibu menggantikan posisi ayah sebagai tulang punggung keluarga. Segala cara halal ibu pakai untuk menghidupi dan mencukupi kebutuhan keluarga.
“Boleh. Tapi kau tidak boleh membawa banyak kue. Cukup sesuaikan dengan tenagamu. Jika usia begini kau sudah memikul beban berat, nanti kau tak bisa bertumbuh lebih tinggi lagi.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena tulang-tulangmu masih dalam masa pertumbuhan. Kalau kau sudah memikul beban berat sejak usia dini, bisa-bisa tulangmu tak bisa bertumbuh lebih tinggi dan kau dianggap stunting.”
“Apa itu stanting?”
“Badan yang tumbuh kerdil, Simon.”
“Biar sajalah ibu, yang penting aku bisa membantu ibu.”
“Ibu masih bisa berjualan sendiri, Nak. Jangan khawatir!”
“Ah ... ibu, biar aku juga belajar berusaha. Jangan memanjakan aku! Pokoknya aku mau bantu ibu,” kataku berkeras.
“Wah ..., kau memang anak yang berbakti. Namun ibu tetap tidak membiarkanmu memikul beban berat. Siapa tahu kelak kau ingin menjadi polisi atau tentara? Itu berarti tubuhmu harus tinggi.”
“Kue, kue ...! Roti goreng balek gula, donat, dan pisang goreng ...!”
Mulailah aku membantu ibu berjualan. Pagi, sebelum ke sekolah dan sore, setelah pulang sekolah aku menjual kue buatan ibu. Itu sudah menjadi kebiasaan harianku. Terkadang Sarus membantuku membawa tempat sambal bagi kue tertentu.
Suatu saat aku berjualan di sekitar terminal kota yang hanya satu kilometer dari rumahku. Ketika akan melewati terminal angkutan kota itu, seorang kakak memanggil dari arah deretan bangku terminal. Setelah aku mendekat, ia menanyakan harga kue lalu mengambil dan memakan langsung kue itu seharga sepuluh ribu rupiah.
Dek, aku sangat lapar. Biarkan aku makan dahulu, nanti aku bayar,” katanya.
Aku senang karena ia pembeli pertamaku sore itu setelah kurang lebih sejam berjualan belum ada yang laku. Setelah makan dan dirasanya sudah kenyang, ia berkata: “Aku pergi ambil uang di sebelah sini. Adek tunggu saja di sini, nanti aku kembali.”
Setelah menunggu sejam, kakak itu belum kembali juga. Aku menyuruh Sarus menjaga jualan agar bisa pergi mencari kakak itu. Kususul dia lewat jalan yang ditempuhnya tadi hingga menerka-nerka arah saat memasuki persimpangan. Hasilnya, nihil. Aku bertanya pada orang-orang sekitar dengan menyebutkan ciri-cirinya, tapi tidak ada yang kenal. Saat itu aku sadar bahwa sudah tertipu.
Aku melanjutkan jualan hingga laku semuanya dan pulang menceritakan dengan polos kesialan yang aku alami. Aku minta maaf karena telah mudah tertipu dan mengakibatkan usaha ibu merugi.
“Tidak apa-apa, Nak'. Yang penting kau telah berusaha. Mungkin orang itu lapar dan tidak punya uang untuk membayar sehingga terpaksa menipu. Kita ikhlaskan saja. Anggap saja kita telah membantu kesulitannya,” kata ibu mantap.
Saat modal dirasanya sudah cukup, ibu membuat kios kecil dan mulai menjual segala bahan kebutuhan pokok rumah tangga. Kios itu didirikan di depan rumah kami. Dari kios sederhana itulah ibu menyekolahkan kami hingga menyelesaikan pendidikan.
Benar bahwa kata-kata adalah doa. Aku berhasil menjadi seorang polisi sebagaimana yang pernah ibu katakan.  Saat makan siang semeja dengan beberapa senior, ada salah satu di antara mereka menceritakan betapa susahnya hidup di kota. Ia mengakui pernah menipu seorang bocah yang berjualan kue supaya bisa makan dan kenyang lalu kabur.
“Kejadian itu terjadi sekitar tahun berapa?” tanyaku penasaran.
“Sekitar sepuluh tahun lalu.”
“Di daerah mana?”
“Di terminal kota.”
“Kakak, makan kuenya berapa banyak?”
“Kira-kira seharga sepuluh ribu rupiah.”
“Ha ..., itu berarti saya yang jual kue itu, Kak.”
“Waduh ..., maaf, maaf .... Ternyata dunia ini sempit dan kita bisa bertemu kembali. Sekali lagi aku minta maaf,” kata kakak itu merasa tidak enak, kikuk, dan malu karena tertangkap. Wajahnya tersipu-sipu.
“Tidak apa-apa, Kak. Untunglah ibuku orang yang sangat baik hati sehingga aku tidak dimarahinya walau tekor. Ia tidak pernah menggunakan kekerasan dalam mendidik anak-anaknya. Hanya nasihat dan motivasi. Dan ternyata ibu benar, saat itu kami telah membantu kakak yang kelaparan hingga kakak bisa bertahan hidup dan menjadi orang yang berguna seperti sekarang.”
“Tapi menipu itu tetap hal yang salah!”
“Benar! Tidak ada manusia sempurna, Kak, asal kita mau berubah jadi lebih baik.” 
“Kau punya ibu yang luar biasa.”
“Ya. Ibu bagiku adalah pahlawan kehidupan bahkan sejak kita masih berada di dalam kandungan.”
*Dipersembahkan kepada Ibu Maria Jenmakani-Atamou dan Johana Sely-Sandy. Selamat Hari Ibu tanggal 22 Desember 2019.

SIO MAMA

Oleh : Krismanto Atamou

Brapa puluh tahun lalu, beta masih kecil’e, beta ingat tempo itu, Mama gendong-gendong beta’e .... Sambil Mama bakar sagu, Mama manyanyi buju-buju, la sampai basar bagini, beta seng lupa Mama’e ....
Lagu Sio Mama ciptaan Melky Goeslaw itu tiba-tiba terngiang di kepalaku. Tak sadar aku ikut menyanyikannya. Tanganku sedang mengetikkan seabrek tugas laporan di kantor. Memang itulah rutinitasku di akhir tahun ini. Meski liburan natal semakin dekat namun seakan pekerjaan-pekerjaan ini terus mengikat kakiku untuk tidak pergi berlibur.
“Sio Mama’e ... beta rindu mau pulang’e ...,” tak sadar aku pekikkan suara di ruang kerjaku.
“Makanya segera selesaikan laporan itu kalau mau segera berlibur,” kata Ryla, teman kerja yang duduk di sebelahku.
“Ini juga sudah cepat, tapi kerja belum selesai,” jawabku.
“Jangan lupa bernafas,” kata Ryla.
“Maksudmu?”
“Tubuh butuh istirahat.”
“Jadi, bagaimana? Pekerjaan ini masih banyak, Ryla.”
“Ya, kan kau bisa akal-akali agar bisa menyerap semua dana yang tersedia. Dari pada kau kembalikan ke kas negara? Seolah buruk kinerja kantor kita ini, tidak bisa menyerap anggaran yang disediakan pemerintah. Disclaimer. Kau mau?”
“Jadi, apa kau mau aku aku buat laporan fiktif agar segera selesai padahal merugikan keuangan negara? Agar aku punya uang banyak hasil korupsi untuk kuhambur-hamburkan saat liburan, mendermakannya seolah aku tokoh yang peduli gerakan sosial? Atau kupakai sebagai uang persembahan seolah-olah bisa menyogok Tuhan untuk mengurangi dosa-dosaku?”
“Yaelah ...! Jangan sok’ suci kamu! Semua manusia berdosa, Rambu.”
“Ya, tapi bukan berarti kita harus terus tinggal dalam dosa, Ryla! Jika kau Nasrani, ingat Natal sudah dekat. Momen kelahiran Kristus harusnya jadi pengingat bahwa ada Karya Besar Nan Agung dari Sang Pencipta untuk menyelamatkan umat manusia dari jerat dosa. Sebuah pengorbanan besar dari Sang Pencipta agar kita selamat dan memiliki hidup yang damai sejahtera. 
Kalau pun kau bukan Nasrani, bukankah semua agama atau kepercayaan mengajarkan tentang kebaikan? Bahkan negara, kerajaan, atau tatanan kehidupan mana pun menganjurkan agar manusia berbuat baik. Jika melanggar maka ada ganjaran yang menanti. Itu lumrah di mana pun.”
“Ya, kalau ketahuan pasti ada ganjaran. Tapi kalau tidak, maka akan aman-aman saja. Apalagi hasil korupsi itu kau bagi juga dengan orang-orang atas, maka kau akan terus dipercaya mengelola lahan basah itu selamanya, Rambu.”
“Silakan kalau kau mau seperti itu, Ryla. Aku tidak!”
“Terserahmulah!”
“Ah, kau membuat aku lupa pada Mama.”
“Memangnya ada apa dengan Mama kamu?”
“Ingatan padanya mendorongku untuk segera menyelesaikan laporan keuangan ini. Aku rindu Mama.” 
“Kau tak rindu Bapakmu?”
“Bapakku sudah meninggal dunia beberapa tahun lalu, Ryla.”
“Aku turut berdukacita, Rambu.”
“Terima kasih.”
Suasana panas tetap terasa di dalam kantor meski beberapa kipas angin sudah berupaya memeranginya. Gerah terasa. Kata para aktivis peduli lingkungan, itulah bagian dari kejadian yang disebut pemanasan global. 
Meski pekerjaan kantor terus menumpuk seiring menumpuknya gas karbon di atmosfir bumi, aku tetap ingat tempo itu di kampung Puntaru, kampung di pinggiran pantai yang terkenal dengan pasir tiga warna. Sejak kecil Mama mengajarkanku untuk tidak malas-malasan tetapi menjadi pekerja keras yang bertanggung jawabku. Pelajaran dari Mama itulah yang ternyata sangat bermanfaat dalam hidupku.
“Rambu ..., Eu Samu Lau e ...!” begitu Mama memanggilku sejak kecil. Nama resmi yang tercatat di akta kelahiran dan nama dari suku pun dipakai mama untuk memanggil namaku. Suara panggilan Mama itu menggelegar ke seluruh penjuru kampung. Kata orang, suara orang-orang pantai selalu begitu. Menggelegar dan sangat besar untuk mengalahkan suara deru ombak saat berbicara di pantai. Jika sudah begitu, aku segera berlari pulang ke rumah.
“Ya, Mama,” sahutku begitu sampai di depan Mama.
“Cepat kau masak, cuci piring, dan bersihkan rumah.”
Seperti biasa, perintah itu aku sambut dengan menggerutu. Kadang Mama memarahiku kalau aku berlambat-lambat. Saat itu memasuki usia remaja.
“Bagaimana kalau Mama yang masak, aku cuci piring? Biar cepat selesai masakannya dan kita cepat makan malam,” kataku mencoba menawar perintah mama.
“Aih ... kau jangan banyak protes, Samu. Kelak kau akan hidup mandiri. Kalau kau terus berharap pada Mama, sampai kapan kau bisa hidup mandiri?”
“Mama e ..., anak lain saja orang tuanya manja, kenapa Mama tidak?”
“Eu Samu, kau jangan melawan! Mama buat begini semua untuk kebaikanmu, sayang. Kelak kau akan bersyukur bahwa Mama telah mengajarkanmu dengan keras agar tidak bermalas-malasan, bahkan terus berusaha dan bekerja meski belum berhasil.”
Beras aku tampi dari persediaan yang tinggal sedikit di tempat beras. Kalau sudah begitu tandanya akan ada pekerjaan berat yang segera menghampiriku. Menumbuk padi ladang yang merupakan hasil kebun Mama.
Mama seorang petani ladang yang sangat rajin. Jika musim berkebun tiba, Mama mengajak kerabatnya untuk berkebun. Mereka bekerja secara gotong royong. Hasilnya lumayan banyak. Biasanya Mama menganyam semacam bakul besar dari daun lontar dengan ukuran sekitar tiga ribu liter, bahkan lebih besar lagi. Untuk satu kebun saja, hasilnya bisa mencapai enam bakul besar yang kemudian dimasukkan ke dalam lumbung. Bapak akan membantu Mama jika sudah pulang dari mengajar di sekolah dasar. Sebagai guru, Bapak juga pekerja keras.
Aku menyusun kayu api di tungku dengan kesal. Mulutku terus komat-kamit dengan gerutu. Walau begitu, aku tak berani melawan Mama. Kata pepatah: hilang Bapak hilang kehormatan, hilang Mama hilang kasih sayang. Oleh karena itu, biar bagaimana pun aku tak berani melawan orang tua. 
Mama adalah sumber kasih sayang bagiku. Meski didikannya keras, tapi sebenarnya itu adalah wujud kasih sayangnya. Kasih sayangnya bukanlah kasih sayang yang kejam yaitu membiarkanku hidup tergantung padanya dan akhirnya potensi diriku sendiri tidak berkembang.
Pagi itu ketika kokok ayam subuh belum juga terdengar. Jangkrik masih ribut mungkin sedang bersukacita karena makanan yang melimpah setelah datangnya musim hujan. Orang-orang sekampung masih menikmati bunga tidurnya. “Samu Lau ...! Rambu ....” Mama sudah memanggil tepat jam setengah empat pagi. Aku disuruh bangun, sembahyang, kemudian bekerja untuk mempersiapkan makanan dan minuman pagi.
Sebagai guru, Bapak harus makan pagi agar punya tenaga menghadapi murid-muridnya di kampung. Terkadang Bapak harus mencari mereka di rumah, di pantai, atau di kebun untuk mengajak mereka ke sekolah dan belajar. Sedangkan Mama harus makan pagi sebelum ke kebun. Selain itu, Mama juga membawa bekal untuk makan siangnya di kebun. Sejak memasuki masa remaja, pekerjaan masak-memasak di rumah sudah menjadi tanggung jawabku. Itulah ritual yang mulai aku lakukan untuk seterusnya.
Begitulah aku nyaris tak pernah dimanja untuk bermalas-malasan. Mungkin Mama ingin aku mengikuti jejaknya sebagai wanita tangguh dengan segudang keterampilan yang dikuasainya. Mama bisa mengurus rumah tangga dengan baik, petani yang rajin, bisa menjahit pakaian dengan rapi, menganyam tikar, nyiru, hingga berbagai perabot dari anyaman daun lontar.
Terkadang Mama membuat roti bakar yang lezat dan gurih untuk dijual di dalam kampung. Selalu laris. Terutama oleh anak sendiri, hehe .... Mama juga tukang urut bagi anak-anak dan orang dewasa. Sudah banyak orang yang ia urut dan sembuh dari sakit badan.
Di sela-sela pekerjaanku memasak dan membereskan rumah, terkadang aku berpikir betapa beratnya pekerjaan Mama. Bagaimana mungkin Mama bisa membagi waktu antara mengurus rumah, bekerja di kebun, berkerajinan tangan, namun tetap memperhatikan suami dan anak-anak? Sungguh Mama yang luar biasa.
Sebelum kelahiranku, Mama menghadapi peristiwa duka. Anak sulungnya dipanggil oleh Tuhan. Meninggal dunia. Tidak berapa lama, saat rasa duka itu belum hilang, anak laki-laki bungsunya pun meninggal dunia. Peristiwa duka ini membuat Bapak dan Mama sangat terpukul. 
Bagaimana mungkin Bapa dan Mama bisa bertahan menahan kesedihan yang mendalam? Mata mereka harus menyaksikan anak yang dilahirkan dan dibesarkan hingga menjadi remaja dan seorang pemuda, ternyata pergi lebih dahulu menghadap Sang Pencipta. Hati orang tua mana yang kuat untuk menyaksikan penguburan anaknya sendiri? Anak yang diharapkan kelak menjadi penerus keluarga.
Tangisan dan air mata tak mampu mengurangi rasa duka. Kata-kata penghiburan dari handai taulan tak mengurangi rasa perih di hati yang tidak rela kehilangan orang tersayang, sebagus apa pun kata-kata itu diberikan. Bahkan sanak keluarga pun tak kuat menahan haru.
Berpulangnya kedua kakak lelakiku ke hadapan Pencipta telah menjadi tragedi bagi Mama. Tragedi itu membuat Mama sampai mengalami depresi berat. Bapak pernah bercerita bahwa menurut pendapat orang-orang sekampung, Mama sudah dianggap gila. Saban hari, Mama berjalan ke sana kemari tak tentu arah hingga malam. Itulah titik terendah dalam hidup Mama. Demi keselamatan, seorang saudarinya merelakan diri untuk mengikuti dan menjaga ke mana saja Mama berjalan. Itu terjadi beberapa tahun hingga akhirnya aku dilahirkan.
Begitu aku lahir, aku diberi nama Rambunita. Singkatnya Rambu. Nama Rambu bagi masyarakat Sumba tidak boleh digunakan sembarangan. Nama itu hanya berhak digunakan oleh kaum bangsawan. Aku pernah bertanya pada Bapak dan Mama, apa arti nama Rambu, namun tak pernah dijawab hingga aku berusia 25 tahun. 
“Kau anak hasil pergumulan Bapak dan Mama. Kelahiranmu adalah penghiburan bagi kami. Itulah alasan namamu adalah Rambunita sebagai akronim dari ramuan penghibur bagi hati yang berduka cita,” kata Bapak yang meninggal dua tahun kemudian.
“Sio Mama’e, beta rindu mau pulang’e ... Sio Mama’e ... Mama su liat kurus lawang’e, beta balom balas Mama, Mama pu cape sio dolo’e ... sio tete manis’e, jaga beta pung Mama’e ....”
Refrain dari Lagu Sio Mama itu kudengungkan selalu sebagai energi bagi jiwa agar terus menyelesaikan pekerjaan akhir tahun. Ah, Mamaku, Mama Sandy .... Tak akan mampu kubalas segala kebaikanmu, gumamku dalam hati. 
*Selamat hari Ibu tanggal 22 Desember 2019 bagi Mama Maria Jenmakani di Kalabahi dan Mama Johana Sely-Sandy di Oebufu serta seluruh Ibu di mana pun berada.

Jumat, 06 Desember 2019

MENANTI GEBRAKAN MENDIKBUD PERIHAL UJIAN NASIONAL

Oleh : Krismanto Atamou
Wakil Ketua Ikatan Guru Indonesia Provinsi NTT

Gebrakan Mendikbud baru, Pak Nadiem Makarim untuk mempertimbangkan penghapusan UN―ujian nasional―pada tahun 2021 telah santer terdengar.  Ada yang mengapresiasi, tetapi ada juga yang menolak. Sebagai salah satu pegiat pendidikan, saya ingin mengajukan beberapa permasalahan dan solusi kepada Mendikbud Nadiem Makarim yang selama 100 hari kerja pertama ini ia pakai untuk mempelajari kondisi dan kebijakan pendidikan di Indonesia. 
Pertama; UN yang selama ini terjadi merupakan bentuk evaluasi akhir proses pendidikan. Sikap dan keterampilan proses dalam kegiatan belajar mengajar tidak diperhitungkan sebagai penentu kelulusan murid. Padahal, keberhasilan murid sangat ditentukan juga oleh aktivitas murid saat kegiatan belajar mengajar. Apakah murid proaktif atau sebaliknya. 
Penilaian terhadap murid selama proses kegiatan belajar mengajar, terutama dipakai sebagai alat uji keberhasilan pelaksanaan sistem pendidikan. Untuk penilaian proses ini, gurulah yang lebih paham seluk-beluk murid tersebut karena guru selalu bersama murid dalam kegiatan belajar mengajar. Untuk itu, menyerahkan kembali kewenangan evaluasi pendidikan kepada guru dan sekolah merupakan suatu keniscayaan agar evaluasi yang diterima oleh murid lebih bersifat komprehensif. Tidak hanya aspek kognitif semata melainkan juga aspek sikap dan keterampilan. 
Kedua; Sesuai kurikulum 2013, dalam setiap mata pelajaran terdapat empat kompetensi inti yang perlu diperhatikan yaitu sikap religius, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan. Namun, UN hanya menguji pengetahuan murid sehingga kurang pas untuk bisa dipakai menilai keberhasilan proses pendidikan pada empat kompetensi inti tersebut. Untuk itu, pelaksanaan evaluasi akhir proses pendidikan perlu memperhatikan empat kompetensi inti di setiap mata pelajaran.
Ketiga; Sulit untuk meyakini bahwa rasio kecerdasan intelektual murid yang tercermin dari hasil UN akan selaras dengan tingkah atau perilakunya dalam keseharian. Oleh karena itu, penilaian sikap dan keterampilan tidak semata pendataan nilai, tetapi juga alat untuk mendeteksi, mendiagnosa, dan memberi petunjuk untuk melakukan perlakuan yang tepat kepada murid saat proses pembelajaran agar murid memiliki sikap yang baik dan benar sesuai nilai luhur berbangsa dan bernegara. Untuk itu, penilaian sikap dan keterampilan oleh guru adalah pilihan yang tepat dibandingkan UN yang hanya menjadi evaluasi akhir proses pembelajaran, apalagi tanpa adanya tindak lanjut.
Keempat; Prof. Iwan Pranoto dalam bukunya Kasmaran Berilmu Pengetahuan menyebutkan bahwa sistem UN yang dominan pada kecakapan menghafal informasi semata ini menjadi alasan sahih mengapa para pelajar, juga gurunya, menghindari proses bernalar tingkat tinggi. Siswa dan guru akan bertanya: mengapa perlu memahami bagaimana membuktikan Dalil Pitagoras, jika UN tidak pernah mengujinya? Bukankah UN hanya menuntut memasukkan angka-angka ke rumus a2 + b2 = c2?
Akibatnya, murid menjadi sangat lemah dalam pemahaman matematikanya serta kecakapan bernalarnya. Jika pengasingan budaya bernalar melalui UN bermutu buruk ini dilanjutkan, bangsa kita sangat mungkin akan kesulitan melibatkan diri dalam pembangunan dunia di masa depan. Dampaknya ekonomi kita pun akan hancur. Untuk menyuburkan kembali budaya bernalar, perlu gerakan penyadaran bersama tentang pentingnya bernalar pada era sekarang, kata beliau.
Kelima; Wilayah Indonesia yang sangat berbeda situasi dan kondisi sarana-prasarana pendidikan, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan topografi. Perbedaan itu bahkan ibarat langit dan bumi. Oleh karena itu, sangat tidak adil jika dengan berbagai latar belakang yang berbeda itu, kemudian muridnya diuji menggunakan UN berstandarnya sama dari pusat. Belum lagi masalah tenaga guru yang masih belum selesai, terutama kesejahteraan guru honorer. Beragam kondisi (kesejahteraan, kuantitas, dan kualitas) guru―yang menjadi kunci penggerak pendidikan―tentu akan mempengaruhi kualitas murid yang dihasilkan.
Untuk itu, setarakan dulu sarana-prasarana pendidikan (termasuk guru), barulah setarakan alat evaluasi pendidikannya, kata Pak Sudibio, Dosen FKIP MIPA Biologi Undana. Bagi sekolah di pedalaman yang serba terbatas fasilitas belajarnya tentu sulit mencapai standar nilai yang ditentukan pemerintah. 
Keenam; Pada setiap pembelajaran di kelas, guru perlu mengarahkan murid untuk memiliki kecakapan abad 21 yaitu meliputi kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, berpikir kritis atau HOTS (High Order Thinking Skill) dalam menyelesaikan masalah, dan kreatif serta inovatif. Semua kecakapan itu diperlukan murid untuk memasuki dunia kerja ataupun menjalani kehidupan sehari-hari. 
Dalam kehidupan sehari-hari abad 21 memerlukan kecakapan untuk mengolah informasi, tidak sekedar mengetahuinya. Kalau hanya untuk mengetahui informasi, mesin pencarian google pun bisa melakukannya. Oleh karena itu, UN yang hanya menguji kecakapan menghafal informasi semata sudah tidak kompatibel lagi dengan tuntutan abad 21 ini.
Di abad 21, pekerjaan yang menuntut keterampilan rutin dan kecakapan menghafal informasi semata mulai tergantikan dengan komputer, robot, internet, e-commers, dan berbagai kemajuan teknologi lainnya. Ada fenomena milenial kill yang terjadi hari-hari ini. Jika hal ini tidak diantisipasi sejak dini, maka murid kita akan ketinggalan jauh ke belakang. 
Ketujuh; Pada UU RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional jelas menyatakan bahwa dalam rangka pengendalian mutu pendidikan secara nasional dilakukan evaluasi sebagai bentuk akuntabilitas penyeleggara pendidikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan. Nyatanya, UN tidak terlalu valid untuk dijadikan alat untuk pengendali mutu pendidikan sebab mutu pendidikan tidak hanya berdasar pada jumlah murid yang lulus atau mendapatkan nilai maksimal. Masalahnya, masih ada kejadian yaitu murid yang cerdas tapi tidak lulus, sebaliknya murid yang tidak cerdas namun lulus. Belum lagi bahwa UN hanya mengukur aspek pengetahuan murid.
Maksud menjadikan UN sebagai pengendali mutu pendidikan nasional sesuai UU tersebut di atas kadang terdistorsi menjadi momok yang menakutkan murid. Banyak murid takut tidak lulus UN atau takut nilai UN-nya rendah. Apalagi jika ketakutan tersebut disertai adanya intimidasi dari luar dirinya. Misalnya dari orang tua dan guru. Bahkan kegagalan UN dapat menjadi bahan bully dari teman-temannya, sesuatu yang memalukan atau aib bagi dirinya. 
Komnas Perlindungan Anak mencatat bahwa dampak negatif UN yaitu membuat anak stres saat akan menghadapi UN dan trauma psikologis ketika tidak lulus UN. Bukannya membentuk watak kerja keras, sebaliknya UN seakan memaksa murid harus lulus. Akibatnya, murid dibentuk untuk menghalalkan segala cara agar bisa lulus UN. Hasilnya, banyak kecurangan terjadi. Mirisnya, pada beberapa kejadian, kecurangan saat UN tersebut justru diinisiasi oleh guru yang seharusnya menjadi teladan dalam hal kejujuran. Alhasil, pemerintah menambahkan kalimat: “Saya mengerjakan ujian dengan jujur,” pada lembar jawaban UN yang harus ditulis ulang oleh murid.
Menanggapi itu, pada tahun 2015 lalu pemerintah mengembalikan kewenangan kepada sekolah untuk menentukan kelulusan murid melalui rapat dewan guru. Keputusan pemerintah itu sangat berdampak positif bagi murid. Namun kebijakan ini menimbulkan masalah baru yaitu sekolah dan murid menjadi kurang serius menghadapi UN. Alhasil nilai UN murid cenderung rendah beberapa tahun belakangan ini.
Untuk mengatasinya, pemerintah melalui P4TK (Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan) melaksanakan program PKP (Peningkatan Kompetensi Pembelajaran) yang dimulai pada November 2019 lalu. Melalui PKP diharapkan para guru dapat meningkatkan 0,5 digit hasil nilai UN setiap tahunnya. Harapan itu dituangkan dalam piagam komitmen program PKP yang ditandatangani oleh para guru inti. Apakah PKP ini akan berhasil? Kita lihat saja pada hasil UN tahun depan (2020).
Kedelapan; Skor PISA yang baru dirilis 3 Desember 2019 lalu melaporkan Indonesia berada di posisi 10 terbawah dengan skor membaca ada di peringkat 72 dari 78 negara. Hasil ini berbanding terbalik dengan dana pendidikan yang terus bertambah setiap tahunnya. Selain itu, hasil PISA ini juga merupakan refleksi bagi Kemendikbud dengan program GLN (Gerakan Literasi Nasional) sebagai implementasi Permendikbud No.23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Apa yang masih kurang dari semua program yang sudah dilakukan? Apakah ada hubungannya dengan UN?
Lihat saja format soal UN kita, pilihan ganda. Soal pilihan ganda memungkinkan jawaban spekulasi, kalaupun murid menjawab benar, ada kemungkinan karena kebetulan atau tebakan yang tepat. Dengan soal pilihan ganda, guru tidak bisa mengetahui proses atau langkah murid dalam menyelesaikan soal. Alhasil, ada murid yang tidak merasa perlu memiliki kemampuan membaca karena secara tidak langsung diberi peluang menebak saat menjawab soal pilihan ganda.
Sembilan; Selama ini, hasil UN hanya merupakan sertifikasi bagi murid yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun hasil UN tersebut belum tentu valid jika diuji ulang dengan tes masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bisa saja faktor subjektifitas sangat mempengaruhi hasil UN tersebut. Oleh karena itu perlu adanya penilaian yang otentik dan komprehensif.
Penilaian yang otentik dan komprehensif merupakan penilaiannya manusia. Segala aspek dinilai dengan saksama dan langsung oleh guru. Menjadikan murid sebagai pribadi seutuhnya. Pribadi yang tidak cuma cerdas akal, tetapi juga cerdas hati, budi pekerti dan keterampilan hidup. Memiliki jiwa dan karakter Pancasila yang dilahirkan dari proses pembentukan, perbaikan dan pembiasaan di sekolah. Inilah hasil dari penilaian yang diharapkan UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa seutuhnya. Menjadikan manusia Indonesia yang unggul dan berkepribadian Nasionalis dan Pancasilais.
Salah satu skema penilaian otentik dan komprehensif yang saya tawarkan sebagai solusi dari permasalahan pendidikan nasional ialah sebaiknya mengganti UN dengan e-raport dan e-portofolio proses serta hasil kinerja murid. Ketika murid melamar pekerjaan atau melanjutkan pendidikan, tidak lagi menggunakan angka di atas kertas. Pemberi kerja atau jenjang pendidikan lanjutan hanya perlu melakukan uji petik untuk memvalidasi penilaian pada e-raport dan e-portofolio hasil kinerja murid. Bahkan dengan skema ini, guru dapat mengetahui potensi murid yang bisa disiapkan untuk menciptakan pekerjaannya sendiri sesuai minat dan bakatnya, bukan sebagai pencari kerja.
Jika skema e-raport dan e-portofolio hasil kinerja murid ini dilaksanakan, wajah sekolah asal murid tersebut akan sangat dipertaruhkan dari kualitas kinerja dan sikap lulusannya. Wajah sekolah dan kualitas sistem pendidikan nasional tidak bisa lagi disembunyikan di balik daftar nilai pada lembar tanda kelulusan murid yang dihasilkan dari putusan rapat penentuan kelulusan oleh dewan guru, sebagaimana yang terjadi selama ini. Inilah penilaian otentik, an sich, dan akuntabel yang akan menjadi tantangan bagi setiap guru, sekolah, dan pemerintah agar betul-betul memperhatikan dan meningkatkan kualitas proses pendidikan di Indonesia. 
Semoga dengan masukkan ini dapat menjadi bahan pertimbangan Mendikbud untuk melakukan gebrakan perihal Ujian Nasional nantinya. Saya menanti gebrakanmu, Pak Mendikbud.

Sabtu, 16 November 2019

OBROLAN DI BAWAH POHON SEPE

Oleh : Krismanto Atamou

“Sejarah dunia akan terulang di kota ini,” kata Ofni sembari memandang ke sekeliling. 
“Maksudmu, sejarah apa?” tanya Eli.
“Coba kau kira, berapa derajat suhu udara di kota sekarang ini?”
“Aku bukan termometer.”
“Nah, justru itu aku memintamu hanya untuk memperkirakan, bukan mengukur dengan tepat.”
“Cukup panas, untuk suhu udara normal.”
“Bukan cukup, tapi sangat panas. Pemanasan global sudah memasuki titik nadir. Bahkan protokol Kyoto pada tahun 1997 yang bersejarah itu seakan tiada dampaknya bagi pengurangan emisi karbon dan pemanasan global.”
“Ah, kau membual, Ofni.”
“Kau tak percaya?”
“Ya. Kau hanya menarik kesimpulan berdasarkan penilaian pribadi seolah-olah itu kebenaran yang berlaku umum. Kau subjektif. Kau mirip beberapa pendebat di media sosial yang selalu menaruh pandangan pribadinya seolah kebenaran mutlak yang harus diterima orang lain.”
“Paling tidak, aku sudah mengaktifkan kesadaran pribadi terhadap lingkungan. Kesadaran itu akan menyalakan alarm kepedulianku untuk berperilaku ramah lingkungan. Mengurangi sampah plastik, karbon, dan berbagai produk atau aktifitas yang melepaskan gas rumah kaca ke lingkungan. Mendukung segala ide dan aksi peduli lingkungan agar bumi, termasuk kota kita jangan terlalu panas seperti sekarang ini.”
“Kondisi cuaca dengan suhu panas ini hanyalah kulminasi musim panas di kota kita. Ini terjadi karena posisi matahari berada di belahan bumi bagian selatan dan kecepatan angin yang lemah.”
“Kau terlalu menyederhanakannya.”
“Apa yang kota kita alami sekarang, sudah dialami kota-kota di belahan dunia lainnya. Dallol di Ethiopia, Wadi Halfa di Sudan, dan Tirat Zvi di Israel. Tidak hanya di luar negeri, tapi juga sudah terjadi di Indonesia seperti di Kota Medan, Pekabaru, Bekasi, dan yang paling dekat ialah Kota Bima, NTB. Mereka sudah merasakannya, kini giliran kita. Sejarah ternyata memang berulang.”
“Ah, itu pikiranmu saja. Mungkin kau terlalu fokus pada laporan kerusakan lingkungan yang diceritakan David Wallace-Wells dalam bukunya ‘Bumi Yang Tak Dapat Dihuni’. Kau terjebak dalam ketakutan lalu secara emosional bereaksi menyatakan perang terhadap pengrusakan lingkungan. Sementara itu, secara langsung atau tidak, kau masih mendukung pengrusakan lingkungan dengan menumpang kendaraan berbahan bakar minyak bumi yang melepaskan karbon ke udara. Kau masih menggunakan listrik dari mesin pembangkit yang juga melepaskan karbon ke udara.”
“Jadi, kau menyindirku.”
“Lebih tepatnya membawa nalarmu untuk berpikir lebih luas sebelum bersikap atau melakukan aksimu.”
“Berpikir lebih luas yang bagaimana?”
“Jangan hanya berkutat pada isu-isu negatif, Ofni. Lihatlah juga keindahan dunia seperti pohon sepe di kota ini, menyiratkan sebentar lagi kita akan memasuki bulan terakhir di tahun ini. Bulan yang penuh berkat untuk merefleksikan perjalanan hidup selama satu tahun dan membuat resolusi untuk tahun yang baru. Bulan dimana musim hujan sudah dimulai untuk membasahi tanah-tanah yang gersang,” kata Eli berupaya menggiring Ofni keluar dari topik pembahasan yang berat.
“Ah, kau hanya mengalihkan isu pembicaraan kita. Kau mirip pemimpin negeri antah berantah itu, selalu mengalihkan isu untuk menghindari protes dan kegaduhan terhadap kebijakan kontroversial yang dikeluarkannya.”
“Begini saja. Kalau kau mau menjadi pemerhati lingkungan tulen, berlakulah yang tidak berdampak pada pemanasan global, termasuk melepas karbondioksida ke udara.”
“Ok. Aku siap,” jawab Ofni ketus.
“Termasuk bernapas, karena bernapas juga mengeluarkan karbondioksida,” kata Eli sembari memperhatikan mimik Ofni. Eli sebenarnya hanya usil ketika mengatakan itu.
“Apa? Kau mau membunuhku?”
“Tidak. Ini hanya saran agar kau menjadi pemerhati lingkungan tulen.”
“Kau jahat,” ujar Ofni sambil mencubit kuat-kuat lengan Eli.
“Aduh ... ampun! Ampun ...!” Eli menjerit kesakitan.
“Makanya, jangan ngomong yang tidak-tidak. Bernapas itu normal, alamiah pemberian Tuhan. Tuhan sudah mengatur daur materi alam, termasuk karbondioksida dengan baik. Yang tidak baik ialah kita, manusia, makhluk yang diberi akal budi, tidak menjaga kenormalan alam hingga alam menjadi tidak seimbang, hingga planet ini bukan lagi menopang impian kemakmuran, melainkan mimpi buruk yang nyata.”
“Nah, kalau pandanganmu ini aku setuju. Tapi, frasa yang terakhir itu terlalu kasar bagi telinga kaum opurtunis.”
“Oh ..., berarti kau opurtunis?”
“Tidak. Hanya menyampaikan pendapatku tentang mereka.”
Sore itu Eli duduk di bangku taman kota itu sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang pincang akibat kecelakaan di bulan Desember sepuluh tahun lalu. Entah kenapa, selalu saja ada banyak kasus kecelakaan lalu lintas menjelang tahun baru dan di awal tahun baru. Ia bersyukur lolos dari maut. Sejak kecelakaan itu ia lebih berhati-hati berkendara di jalanan.
Eli duduk di bawah pohon sepe, ditemani Ofni, sahabat yang juga penyandang disabilitas. Keduanya mengobrol seiring senja yang kian beranjak pergi. 
“Kau bersyukur bisa menyaksikan keindahan dunia dengan kedua bola matamu, sedangkan aku hanya dengan sebelah mata normal,” keluh Ofni.
Mendengar keluhan Ofni, Eli senang. Senangnya bukan karena keluhan Ofni, tatapi karena jurus pengalihan isunya berhasil membuat Ofni mengganti topik pembicaraan, walau sempat diprotes Ofni.
“Kau harus bersyukur Ofni. Masih ada orang lain yang lebih susah dibanding kau.”
“Ya. Kau benar.”
“Kau harus bersyukur, walau dengan mata sebelah, kau bisa menyaksikan begitu indahnya dunia. Tampak kota kita bermandikan sisa-sisa cahaya surya yang akan ditelan kegelapan. Inilah detik-detik terakhir cahaya mentari menyirami bumi. Lihat sepanjang teluk itu, permukaan laut memendarkan warna jingga hingga merah menyala,” kata Eli bangga.
“Pencipta kita memang luar biasa.”
“Ya. Lihatlah juga pohon sepe ini, ketika bunganya bermekaran, sejenak kota kita mirip dengan dengan Negeri Matahari Terbit. Akan ada banyak orang datang dari jauh bulan ini untuk melihat keindahan kota ini. Di Negeri Matahari Terbit, pohon sakura bermekaran adalah berkat bagi warganya.”
“Berkat apa itu?”
“Ada banyak tamu datang hanya untuk menyaksikan keindahan pohon sakura.”
“Oh, jadi tamu adalah keuntungan?”
“Ya. Karena tamu adalah raja.”
“Ah, kau berbelit-belit. Sebut saja keuntungan yang diperoleh warga negeri itu ketika banyak tamu datang melihat pohon sakura?”
“Ketika kita memperlakukan mereka seperti raja, maka sebagai raja tentu banyak kekayaan yang bisa diberikannya saat kita melayani dengan baik. Semisal saat kita memberinya penginapan, transportasi, makan, minum, dan hiburan, jangankan uang pembayaran jasa, bahkan uang tip pun bisa kita dapatkan. Bukankah itu keuntungan?”
“Hmm .... Jadi kau berpikir soal bisnis?”
“Jadi kau tidak suka bisnis?”
Ofni menunduk. Ekspresinya murung. Eli Melek bingung. “Ada apa dengan nona ini. Bukankah lalu ia yang paling aktif berbicara soal bisnis?” pikir Eli dalam hati. Tiba-tiba Eli teringat berita investasi bodong perusahaan multi level marketing yang pendirinya sudah ditangkap polisi.
“Ah, jangan-jangan kau juga tertipu bisnis skema ponzi bulan lalu itu ya? Saat itu kau begitu bergairah bicara soal investasi, balik modal dalam waktu sekejap, tentang networking, dan lain-lain.”
Ofni tetap terdiam. Sikap diam Ofni membuat Eli Melek bertanya-tanya. Penasaran.
Perlahan-lahan Ofni mengeluarkan beberapa lembar kertas dari tas jinjingnya lalu menyodorkan pada Eli Melek. Terlihat hasil print out sebuah tulisan milik Ofni. Beberapa menit berlalu tanpa suara. Eli membaca dengan saksama.
“Ini benar kau yang menulisnya?”
“Jadi kau tak percaya padaku?”
“Bukan begitu. Tulisan ini terlalu bagus untuk pemerhati lingkungan, tetapi juga terlalu menakutkan bagi oknum pebisnis dan politikus opurtunis. Tulisan ini tidak akan lolos untuk diterbitkan pada media populer, kecuali pada media pemerhati lingkungan atau media yang diberi stigma ‘kiri’.”
“Memangnya kenapa?” 
“Bagaimana mau dimuat, tulisanmu berisi ketakutan terhadap kerusakan lingkungan disebabkan aktifitas oknum pebisnis yang bersekongkolan dengan oknum birokrat, oknum penegak hukum, dan oknum politisi. Terlalu keras untuk dibaca.”
“Jadi maumu tulisanku lunak kayak rayuan gombal kaum lelaki yang suka bermanis kata namun akhirnya hanya titip benih kehidupan lalu pergi tanpa jejak?”
“Oh, bukan begitu. Aku tahu, sebagai aktivis difabel pemerhati lingkungan seperti Zulfadli Aldiansyah di Aceh, kau sangat peduli kelestarian terhadap keanekaragaman hayati, tetapi tulisanmu harus berimbang. Dalam artian; kau harus juga memberi solusi dari setiap poin kritikmu. Kalau tidak, tulisanmu hanya menggambarkan luapan emosi dan amarah.”
“Juga soal ekonomi atau bisnis, kau tidak bisa alergi seperti itu. Kehidupan itu kait-mengait. Setiap aspeknya tak bisa berdiri sendiri. Justru karena adanya semua sisi kehidupan itulah lahir kehidupan,” lanjut Eli.
“Maksudmu?”
“Kau tidak bisa mengkotakkan isu lingkungan seolah-olah terlepas dari bisnis. Kau harus berpikir out of the box. Justru karena ‘berpikir di dalam kotaklah’ oknum pebisnis hanya memperhatikan keuntungan semata, sebagaimana kau hanya memikirkan kelestarian lingkungan semata.”
“Jadi kau menyerangku?”
“Hey ... sebagai penulis, kau harus terbuka untuk kritik, Ofni. Bukankah kekayaan pemikiran dihasilkan dari pemikiran berbeda? Maaf, sebagai sahabat, aku lebih memilih menamparmu karena kasih sayang dibanding menciummu demi kebulusan.”
Ofni terdiam. Tak ada ekspresi marah di wajahnya, hanya ada dua guratan di dahi yang menunjukkan bahwa ia sedang berpikir. 
Pohon sepe jadi saksi sambung-mulut antara dua orang sahabat penghuni panti sosial itu. Keduanya sedang menunggu jemputan untuk pulang ke panti setelah mengikuti rapat persiapan aksi sosial peduli lingkungan. Eli sebenarnya tidak mau bergabung dengan aksi itu, tapi karena ajakan sahabat dan untuk hal positif, ia mau.
Bagi Eli sendiri, isu lingkungan, sosial, dan kebersihan adalah tanggung jawab pribadi. Jika setiap pribadi mau sadar terhadap tanggung jawab pribadinya, tentu tidak ada masalah sosial, lingkungan, sampah, termasuk masalah keamanan.  Tapi nyatanya, setelah peradaban kehidupan semakin maju, canggih, dan cerdas, isu-isu itu belum selesai juga. Malah menurut artikel yang Eli baca, ada dugaan pembiaran terhadap kesemrawutan kehidupan agar isunya menjadi jualan para oknum pencari proyek dan jabatan.

Keterangan:
[1] Pohon Sepe (Bahasa Kupang) = Pohon Flamboyan (Delonix regia)